Manfaat Kulit Pepaya Sebagai Pengganti Listrik

Pepaya merupakan merupakan salah satu buah yang disukai oleh banyak orang, dan  terkenal memiliki khasiat untuk melancarkan buang air besar. Ternyata, selain daging buahnya yang memiliki banyak manfaat, kulit pepaya mempunyai manfaat yang sangat baik. Berkat kreativitas dari tim Karya Ilmiah Remaja (KIR) Muhammadiyah 1Babat, Jawa Timur, yang beranggotakan Alfina Umi Maghfiroh, Dewi Satta, dan Novita Febrianti, kulit pepaya yang lebih sering dibuang, kini dapat dimanfaatkan menjadi energi listrik berupa baterai.

Dilansir dari Detik.com, Dewi Satta menjelaskan untuk bisa diubah menjadi sumber tenaga listrik, kulit – kulit pepaya dihaluskan hingga menyerupai bubur, lalu dimasukkan ke dalam wadah aluminium dengan tinggi 50 milimeter dan lebar 102 milimeter, yang kemudian ditambahkan tembaga ke dalamnya. “Ide kulit buah pepaya menjadi sumber energi berawal dari banyaknya limbah kulit papaya di pasar yang kami nilai kurang dimanfaatkan dengan baik karena hanya menjadi limbah,” ungkapnya. Namun untuk sementara, Dewi bersama rekan – rekannya memang sengaja menggunakan baterai bekas sebagai wadah ini. “Jadi, bentuk wadahnya mirip seperti baterai. Bubur kulit pepaya ini juga berfungsi sebagai pengganti bubuk karbon pada baterai yang selama ini diketahui berbahaya bagi lingkungan,” terangnya. Menurut Dewi, seperempat kilogram kulit pepaya sudah dapat menghasilkan 5 baterai, dimana baterai – baterai ini kemudian diujicobakan kepada sejumlah benda elektronik seperti jam beker, jam digital, kalkulator. “Kalau diuji coba untuk menyalakan beberapa benda tadi lumayan lama, bisa sekitar 2 jam,” ujarnya.

Dewi menambahkan, dari hasil penelitian mereka belakangan diketahui bahwa kulit pepaya mengandung asam berupa elektrolit sehingga mampu menghasilkan listrik. Hanya saja baterai ciptaan Dewi bersama dua rekannya mempunyai kelebihan, yaitu tanpa mengandung bahan kimia dan ramah bagi lingkungan. “Untuk dapat menyelesaikan karya ini,  butuh waktu kurang lebih 3 bulan dan kami tidak menemui banyak kesulitan karena banyaknya bahan yang tersedia,” papar Dewi. Biaya yang dihabiskan untuk membuat baterai ini juga tak banyak, hanya berkisar Rp.43.500 untuk setiap baterainya. Perjuangan Dewi dan kedua rekannya berbuah manis, yang meraih peringkat 2 Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) tingkat nasional yang digelar di Institut Pertanian Bogor baru – baru ini. “Kami berharap, agar ke depannya kami bisa membuat karya yang lebih baik lagi untuk sekolah kita SMA Muhammadiyah 1 Babat, dan juga untuk diri kami pribadi. Sesuai motto sekolah kami yaitu hobi berkarya, tradisi juara, raih pahala,” tandasnya.

Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), jurusan Pendidikan Biologi, semester 3, Azizah Shobiroh mengungkapkan hal yang dilakukan oleh Dewi dan kedua rekannya sangat inovatif. “Saya turut bangga dengan anak bangsa yang mempunyai pemikiran seperti ini,” tuturnya. Menurutnya, jika karya tulis ilmiah tersebut dikembangkan lagi, pasti akan menghasilkan karya yang lebih baik lagi. Azizah berpesan, agar pemuda saat ini dapat mengembangkan kreativitasnya, sehingga dapat menyelamatkan dunia dengan cara membuat alternatif-alternatif lain dari sumber daya alam yang tidak terbarukan. “Semoga karya tersebut dapat dikembangkan lagi, dan menghasilkan karya ilmiah lainnya yang jauh lebih bermanfaat,” tutupnya.

(Shifa Ubaisilfa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *