Penderitaan Petani Kendeng, Seruan yang Tak Didengar?

Siapa tak ingat, perihal kasus yang melanda Pegunungan Kendeng terkait pabrik semen Rembang, Jawa tengah yang memicu pro dan kontra di kalangan masyarakat. Banyak masyarakat menolak keberlanjutan pertambangan ini, karena dianggap dapat merusak lingkungan sekitar Pegunungan Kendeng. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kelompok Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan (KMPLHK) Kembara Insani Ibnu Batuttah (Ranita) bersama masyarakat Kendeng kembali turun ke jalan untuk menuntut pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan terkait Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) terkait pegunungan Kendeng, Rabu (26/9).

Anggota Ranita, Irfan Ghazy Istiqlal menyatakan, tuntutan masyarakat yang turun ke jalan yaitu segera menuntaskan pelaksanaan dari KHLS yang sudah terbit. Demonstran menyampaikan tuntutan dengan cara yang berbeda, di mana beberapa petani Kendeng dan orang Betawi memainkan teater yang menceritakan kemenangan petani melawan pabrik semen. Petani Kendeng dan orang Betawi berbagi tugas dalam memerankan tokoh petani dan juga petugas pabrik semen yang memiliki jagoan. Akhir cerita ditutup dengan jagoan pabrik semen mengaku kalah dan menyerah, dan petani tersebut selamat dari kerusakan. Kisah ini pula yang menjadi harapan masyarakat Kendeng terkait permasalahan dengan pabrik semen, dan besar harapan agar segera tercapai. “Kami akan terus melanjutkan perjuangan untuk berkomitmen menjaga dan melestarikan bumi dan kami tidak akan pulang sebelum pemerintah melunaskan pelaksanaan KLHS,” tutup lelaki yang akrab disapa Lampos.

Mahasiswa jurusan Manajemen Dakwah (MD), Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom), Tama Saputra menuturkan, dari perhatiannya terhadap kasus ini, tidak ada perkembangan yang pesat untuk kebaikan masyarakat sekitar. Sebaliknya, masalah ini justru memperlemah masyarakat itu sendiri. “Jika dilihat dari kebijakan yang dikeluarkan pemerintah daerah maupun pusat, berdampak terhadap masyarakat Kendeng dalam beberapa aspek, yaitu dapat menghilangkan jati diri kebudayaan dalam daerah itu sendiri, dengan dibangunnya pabrik semen. Selanjutnya ialah, dilihat dari sosilologis bahwa masyarakat yang sudah merasa nyaman dengan kegiatan bercangkul, menanam padi. dan semacamnya, dipaksakan untuk bekerja menggerakan mesin,” ujarnya. Tama melanjutkan, terkadang manusia hanya melihat dari sisi kemanusiaan saja, tanpa menghiraukan kondisi alam atau lingkungan itu sendiri. Karena sejatinya, manusia tidak dapat hidup jika tidak didukung dengan kondisi alam serta lingkungan yang baik. “Terkait kasus Kendeng ini, dampak yang ditimbulkan adalah alam yang akan rusak dengan berjalannya operasi pabrik semen. Dapat dilihat dari limbah yang dihasilkan, lalu mencemari ekosistem maupun tumbuhan yang ada di sekitar, serta kualitas air yang merupakan kebutuhan penting petani,” ungkapnya.

Taman menambahkan, sudah lebih dari 50 tahun masyarakat Kendeng mendiami daerah tersebut. Mulai dari mereka yang merawat, mereka yang memilh untuk lingkungan sekitar dijadikan mata pencaharian, sampai mereka sudah memiliki tradisi dan budaya tersendiri. “Tetapi semua itu coba dirampas oleh pihak yang ingin mengambil keuntungan, yang kembali lagi akan berdampak kepada manusianya itu sendiri,” pungkasnya.

(Muhamad Fajan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *