Nobar Keputusan Hasil Sengketa Pilpres 2019

Acara Nonton Bareng (Nobar) Keputusan Hasil Sengketa Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 dihadiri oleh wakil dekan dua Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), Muhammad Maksum, wakil rektor empat bidang kerja sama dan kelembagaan, Andi Faisal Bakti, dan pengamat hukum tata Negara, Fathudin Kalimas, di teater lantai dua Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), pada Kamis (27/6).

Pengamat hukum tata negara, Fathudin Kalimas mengatakan, Pemilu 2019 merupakan yang sangat rumit tidak bisa dilihat secara parsial, contoh pertama Data Pemilih Tetap (DPT), kedua soal catatan KPPS yang meninggal karena indikasinya kelelahan.

“Apapun kenyataannya, desain pilpres kita seperti ini, akhir dari proses kontestasi ini lewat peradilan, sesuai dengan pasal 1 ayat 2 kedaulatan di tangan rakyat,” ujarnya.

Ia menambahkan, penerapan demokrasi harus selaras dengan penegakan asas negara hukum, sehingga tidak ada kontestasi yang diselesaikan oleh pengadilan jalanan. Mahkamah Konstitusi (MK) salah satu kanal untuk menjaga tertib demokrasi.

“Ada pembelajaran tentang kelemahan pemilu tahun ini, menilai pemilu dengan semua kerumitan yang terjadi harus devaluasi secara komprehensif,” ujarnya.

Pemilu 2024 menuntut adanya harmonisasi undang-undang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), masa depan harus ada perubahan agar lebih baik. Desain pemilu tidak manual menggunakan e-voting, tapi pemerintah sudah melakukan kajian apakah memungkinkan di negara yang luas.

“Dengan infrastruktur internet belum bagus, beberapa daerah masih kekurangan logistik pada pemilu bulan lalu. Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, hal ini perlu direspon dengan baik demi pemilu yang efisien,” tuturnya.

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), jurusan Ilmu Politik, semester dua, Zulfahmi mengatakan, Pemilu 2019 merupakan pemilu yang sangat banyak surat suara, ada lima, dan ini membuat pusing bagi pemilih pemula seperti kami.

“Semoga pemilu lima tahun yang akan datang lebih baik dari tahun ini,” ujarnya.

(Anisa Khairani)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *