Siapkah Indonesia Menerapkan Sistem E-Voting?

Wakil dekan dua FSH, Muhammad Maksum menjelaskan, EVoting pertama kali diterapkan oleh negara Eropa karena secara sistem demokrasi lebih mapan, dan dalam sejarah, Eropa adalah negara yang pertama kali maju.

“Namun pada 2024, Indonesia belum siap menerapkan E-Voting dalam Pemilihan Umum (Pemilu), karena infrastruktur dan kesiapan mental masyarakat dalam menerapkannya,” ungkapnya.

Berkaca dari sistem E-Voting yang diselenggarakan kampus UIN Jakarta masih terjadi konflik atau keributan, hal ini menunjukan dalam lingkup yang kecil yaitu mahasiswa dan didukung oleh sarana internet yang memadai masih terjadi persengketaan.

“Apalagi jika diterapkan dalam jumlah penduduk sekitar 260 juta lebih tentu belum siap dari infrastruktur dan mental,” tuturnya.

Ia menambahkan, jika dua periode yang akan datang 2029, Indonesia siap menerapkan E-Voting, hal ini didukung oleh angka pendidikan masyarakat yang awalnya sembilan tahun, sekarang di beberapa daerah sudah 12 tahun, semakin cerdas, dan melek teknologi, serta proses pengembangan jaringan atau internetisasi sudah dilakukan pemerintah.

Sarjana Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), Muhammad Fatihul Afham mengatakan, penerapan EVoting dapat menghemat biaya logistik dan efisien dalam segala hal, dibandingkan dengan pemilu secara manual yang menghabiskan dana termasuk sumber daya manusia.

“Tentu saja meskipun dianggap efisien, namun penerapan sistem baru menimbulkan masalah baru, seperti kasus E-Voting di UIN Jakarta yang pertama kali diterapkan,” ungkapnya.

Ia mengatakan, hal ini menimbulkan masalah yang baru, belum efektif, tapi kedepannya harus ada perbaikan, mengingat sekarang perkembangan teknologi semakin maju sudah selayaknya E-Voting diterapkan.

(Anisa Khairani)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *