Sikap Mahasiswa Terkait Aksi di Papua

Aksi demonstrasi yang berujung kerusuhan di Papua Barat, tepatnya Manokwari pada Senin (19/8) lalu, membawa Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema), Fakultas Sains dan Teknologi (FST) membuat pernyataan sikap terkait peristiwa di Manokwari. Isi dari pernyataan sikap tersebut diantaranya, Dema FST mendukung dan menyerukan kepada kepolisian Republik Indonesia (RI) dan Komnas HAM untuk mengusut tuntas dan segera menindaklanjuti sesuai prosedur hukum, meminta mahasiswa dan masyarakat saling menghormati dan menghargai kemajemukan Indonesia, tidak menyebarluaskan berita bohong apapun, serta Dema FST akan selalu berupaya untuk konsisten menjaga kemajemukan mahasiswanya.

Kepala Departemen Kesejahteraan Mahasiswa, Ilham Romadona menuturkan, pernyataan sikap tersebut dibuat berdasarkan melihat banyaknya informasi yang simpang siur mengenai kasus di Manokwari yang menurut ia seperti ada yang ingin memecah belah persatuan Republik Indonesia.

“Indonesia adalah negara dengan berbagai suku, ras, agama, dan budaya sehingga perlu untuk terus dijaga kemajemukannya. Kita menolak keras apapun bentuk diskriminasi yang ada di Indonesia,” ujarnya.

Dirinya menambahkan, kejadian yang terjadi kini begitu miris dan perlu ditangani oleh pemerintah dengan baik, karena kesatuan dan persatuan di Indonesia adalah bukti nyata kehebatan negara Indonesia.

“Untuk pemerintah harus lebih bersikap adil dan netral serta beberapa analisis panjang dalam menangani kasus tersebut agar tidak terjadi kesalahpahaman antar suku seperti yang banyak terjadi saat ini. Semoga kasus ini cepat terselesaikan,” tutupnya.

Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Kesejahteraan Sosial (Kessos), Husamuddin Fadhil Sinduwardoyo menuturkan, langkah yang diambil oleh Dema FST tersebut suatu tindakan yang sangat baik, karena sudah semestinya peran dan fungsi mahasiswa sebagai pelindung dan penyambung lidah masyarakat.

“Kondisi Indonesia saat ini sangat memprihatinkan, ketika keberagaman bukan menjadi suatu keindahan melainkan menjadi kegelisahan, karena pandangan masyarakat yang mulai membeda-bedakan setiap manusia,” ungkapnya.

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Kesejahteraan Sosial (Kessos), semester lima tersebut menambahkan, dalam kondisi Indonesia pada saat ini tidak hanya menjadi masalah pribadi, tetapi juga menjadi masalah bersama. Selain menjadi mahasiswa juga harus menjadi agent of social control, yang bersikap toleransi, tidak mebedakan satu sama lain.

(Chintia Desy Utami)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *