Dema UIN Jakarta Klarifikasi ke Pihak Unpam Terkait Video Viral Jas Almamater

Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2019 UIN Jakarta, di Lapangan Triguna, pada Selasa (27/8), telah menuai kontroversi akibat perubahan warna jas almamater UIN Jakarta secara mendadak, tanpa ada sosialisasi sebelumnya.

Perubahan warna jas almamater tersebut sama dengan jas almamater Universitas Pamulang (Unpam), yang kemudian terdengar yel-yel dari beberapa oknum menyebut nama Unpam dalam video di media sosial yang berdurasi 13 detik tersebut. Sehingga, pihak Unpam meminta klarifikasi dari pihak UIN Jakarta.

Mahasiswa Unpam, Fakultas Ekonomi, jurusan Manajemen, semester tujuh, Bima Rizky Ananda menuturkan, setelah beredarnya video terkait yel-yel dari beberapa oknum UIN Jakarta, pihak Unpam merasa almamaternya telah direndahkan, lalu membuat tuntutan klarifikasi dari pihak UIN Jakarta melalui video.

‘’Beberapa perwakilan UIN Jakarta, pada Selasa (27/8), telah bertemu dan mengklarifikasi atas kejadian tersebut,’’ ungkapnya.

Dirinya menambahkan, menanggapi komentar warganet, setiap orang memang punya hak untuk mengemukakan pendapat di muka umum, yang tak mungkin dibatasi. Sebagai mahasiswa, seharusnya menyikapi hal tersebut secara dewasa.

‘’Saya berharap kedepannya kita dapat tetap menjaga kerukunan, serta dapat bersinergi dan berkolaborasi,’’ pesannya.

Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) UIN Jakarta, Sultan Rivandi menuturkan, beberapa pengurus perwakilan Dema UIN Jakarta telah melakukan silaturahmi dengan beberapa perwakilan pihak Unpam, pada malam setelah kejadian tersebut.

‘’Di sana melakukan klarifikasi, menjelaskan bagaimana kondisi lapangan, dan bagaimana kronologis, dan maksud tujuan dari oknum tersebut memang tidak ada maksud untuk menjatuhkan Unpam,’’ jelasnya.

Dirinya menambahkan, saat ini kondisi kedua belah pihak telah baik-baik saja, perihal kejadian kemarin, hanya persoalan komunikasi yang tersendat. Ketika ada persoalan, sebagai mahasiswa harus langsung menyelesaikan secara intelektual dan argumen, bukan sentimen.

‘’Kita tidak bisa hakimi warganet yang masih berkomentar di media sosial, tetapi yang jelas komentar tersebut dijadikan sebagai pesan dan evaluasi agar kondisi tersebut tidak terjadi lagi,’’ tutupnya.

(Chintia Desy Utami)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *