Hari Hak Konsumen Sedunia: Utamakan Kualitas Produk Lokal

Hari Hak Konsumen Sedunia. Sumber foto: disperdagin.surabaya.go.id


Indonesia merupakan negara terbesar keempat di dunia dengan budaya konsumtif yang melekat bagi sebagian masyarakat. Kini, seiring perkembangan zaman seperti berbelanja online pun kian marak hingga konsumen mengalami kerugian lantaran penipuan. Berdasarkan Undang-undang (UU) Nomor Delapan Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yaitu hak konsumen paling utama diantaranya hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang atau jasa.

Maka, pada setiap 15 Maret diperingati sebagai Hari Hak Konsumen Sedunia dengan tujuan agar para konsumen melihat kembali dan mempelajari hak-haknya. Sesuai dengan perkembangan sektor jasa keuangan saat ini, para konsumen sebaiknya memahami hal apa saja yang harus diketahui, jika terlibat dalam kegiatan yang berhubungan dengan jasa keuangan.

Ketua umum Koperasi Mahasiswa (Kopma) UIN Jakarta, Muhammad Rian Ramadhan menuturkan, Kopma UIN Jakarta merupakan koperasi serba usaha yang menjualkan produk makanan ringan, berat, maupun penjualan Alat Tulis Kantor (ATK).

“Masyarakat harus dapat memilih dan memilah produk yang baik, tidak hanya memikirkan harga yang murah namun tetap memikirkan kualitas produk tersebut,” jelasnya.

Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) tersebut menambahkan, menurut dirinya hak konsumen belum sepenuhnya terpenuhi. Di era digital kini konsumen dapat beralih ke toko online jika tidak puas dengan produk di toko konvensional.

“Bagi masyarakat Indonesia dihimbau agar lebih memerhatikan kualitas produk yang dibeli, sehingga dapat meminimalisir kerugian ketika berbelanja,” pesannya.

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), jurusan Akuntansi, semester empat, Dea Yolanda menuturkan, Hari Hak Konsumen sedunia tersebut menjadi momentum bagi masyarakat supaya menyuarakan haknya.

“Kita sebagai konsumen perlu cermat dan teliti dalam memilih ataupun mengkonsumsi produk guna meminimalisir kerugian di salah satu pihak. Di era digital, toko online yang mudah diakses tersebut juga tentu memiliki dampak negatif,” ungkapnya.

Dirinya menjelaskan, salah satu dampak negatif dari berbelanja online yaitu maraknya penipuan barang. Dirinya menghimbau, agar masyarakat mengutamakan barang lokal dibanding barang impor karena hal tersebut dapat meningkatkan mutu pengusaha Indonesia.

“Jangan mudah terpancing dengan harga murah tetapi tidak berkualitas, serta bagi produsen agar menjaga kualitas produknya demi terjaminnya hak konsumen,” pesannya.

(Sani Mulyaningsih)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *