Turki Ancam Aksi Militer Jika Gencatan Senjata Dilanggar

Genjatan Senjata Provinsi Idlib, Turki Kirim Ribuan Tentara. Sumber foto: okezonenews.com


Dua tentara Turki tewas dan dua lainnya cedera dalam serangan udara di Idlib Suriah, pada hari Rabu (26/02) lalu. Militer Ankara balas dendam dengan menyerang posisi pasukan pemerintah Suriah. Kementerian Pertahanan Turki mengonfirmasi kematian dua tentara Ankara akibat serangan udara tersebut.

Kemudian, pada Rabu (11/03) Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bersumpah akan meluncurkan pasukan militernya sebagai aksi pembalasan terbesar jika pemerintah Suriah melanggar gencatan senjata yang rapuh di provinsi Idlib pada Minggu lalu.

Dilansir dari voaindonesia.com., Gencatan senjata yang diatur oleh Turki dan Rusia, yang mendukung pihak oposisi dalam konflik, menghentikan serangan darat dan udara selama tiga bulan, yang dilakukan oleh pemerintah Suriah ke propinsi yang diduduki oleh pemberontak.

“Serangan itu menewaskan ratusan penduduk dan menyebabkan satu juta orang melarikan diri ke perbatasan Turki. Serangan pemerintah Suriah yang didukung oleh Rusia memberi kemajuan yang signifikan di tempat pertahanan terakhir pemberontak di Suriah,” jelas Presiden Turki Erdogan.

Dirinya menambahkan, Turki mengirim ribuan tentaranya melewati perbatasan untuk memperkuat pemberontak, menyebabkan pertempuran langsung yang jarang terjadi antara pasukan Suriah dan Turki. Presiden Erdogan mengatakan, telah terjadi sejumlah pelanggaran kecil dalam gencatan senjata itu, yang dimonitor oleh Turki secara seksama.

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Kesejahteraan Sosial (Kessos), semester dua, Khosyi Muttaqien mengatakan, di era modern saat ini tentu berbahaya jika terjadi genjatan senjata yang terjadi di Idlib.

“Pasalnya, hal tersebut hanya bertujuan untuk politik yang seharusnya tidak perlu terjadi peperangan di muka bumi ini, dan lebih memikirkan dampak yang terjadi pada masyarakat hingga dunia,” jelasnya.

Dirinya menambahkan, jika dilihat dari sisi politik, rezim Suriah tersebut menghancurkan rumah agar masyarakat Idlib pergi dan rezim Suriah dapat menguasai tanah Idlib. Rezim Suriah tersebut telah melanggar perjanjian perang yaitu telah menyerang rumah sakit.

“Semoga pertikaian tersebut segera selesai dan masyarakat ingin terciptanya perdamaian dan keadilan di dunia ini walaupun hal tersebut mustahil, namun setidaknya kita harus berusaha mewujudkannya,” tutupnya.

(Sani Mulyaningsih)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *