Intan Kusuma Fauzia: Jangan Lupakan Marketing Langit

Pemilik local brand ‘Vanilla Hijab,’ Intan Kusuma Fauzia yang akrab disapa Intan, saat ini akun Vanilla Hijab memiliki pengikut mencapai kurang lebih sebanyak 1,6 juta followers di instagram. Nama vanilla sendiri dipilih dengan harapan setiap orang yang memakai produknya, akan terasa manis dan menyenangkan. Dengan berbagai macam variasi model, bukan hanya hijab saja, namun ada beberapa baju muslim yang dijual. Namun siapa sangka, dibalik kesuksesannya, ada perjuangan yang begitu berat. Perjuangan yang tentunya dilalui dengan rasa sabar dan ikhlas.

Berasal dari keluarga sederhana tak membuatnya pantang menyerah dengan kehidupan. Saat baru pindah ke Jakarta, ibunya sempat berjualan di kantin Sarinah Thamrin. Tujuh tahun berlalu, hingga Vanilla Hijab telah berada di puncak kesuksesan seperti sekarang. Intan tak seorang diri untuk memulai karirnya menapaki dunia bisnis. Dirinya ditemani sang adik, Atina Maulina. Mereka memutuskan untuk terjun ke bisnis clothing line. Walaupun sang adik sempat mengidap artritis rheumatoid, gangguan inflamasi kronis yang memengaruhi banyak sendi termasuk di tangan dan kaki. Tak menyerah dengan keadaan, Intan memilih untuk kuliah swasta di PPM School of Management. Sadar dengan biaya kuliah yang tidak murah, dirinya mulai memikirkan untuk mencari penghasilan dengan berjualan baju. “Bahkan segala macam bisnis kayak jualan apa aja gitu, udah aku coba semuanya. Sampai aku menemukan diri aku yang suka sama fashion,” tuturnya.

Langkah awal dimulai dengan menelusuri pusat pertokoan kain di Pasar Mayestik. Beberapa kain yang menarik dan menurutnya akan laku di pasaran, difoto terlebih dahulu. Lalu foto tersebut diunggah ke laman instagram. “Ketika ada yang beli, baru kita balik lagi ke mayestik. Lalu kita jahit menjadi hijab.” Tahun tersebut memang beberapa fashion muslim tengah berkembang. Namun tak ada rasa khawatir dalam dirinya.

“Satu yang selalu aku inget dan aku percaya. Dalam dunia bisnis, jangan pernah lupakan marketing langit. Bukan cuma strategi kita aja untuk mengatur semuanya. Allah yang sudah mengatur semuanya. Kita harus mendekati-Nya,” tambahnya.

Dari modal dan keuntungan awal tersebut mulai diatur pengeluaran serta pemasukan. Sistem penjualan Vanilla Hijab sendiri berbeda dengan kebanyakan toko online lainnya. Ada syarat yang harus dipenuhi, yakni terdaftar sebagai anggota dan membeli pada waktu yang ditentukan. Brand tersebut juga tidak memiliki toko offline tetap. Biasanya hanya terdapat di beberapa pameran busana dan festival saja. Tidak hanya itu, Vanilla Hijab berupaya agar kehadirannya dapat memberi manfaat bagi orang-orang disekitarnya. Mulai dari mempekerjakan penjahit keliling, hingga membantu pegawai yang sempat putus sekolah untuk kembali melanjutkan pendidikannya. Brand ini juga ikut berbagi dengan saudara Muslim di wilayah timur nusantara, terutama bagi penghafal Al-Quran.

(Milla Rosa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *