Xenofobia: Istilah Lawas yang Kerap Terjadi di Zaman Sekarang

Ilustrasi, seseorang menganggap asing kelompok lain yang bukan dari golongannya. Sumber foto: saveahater.accem.es


Balamuda, sejatinya manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan teman hingga membentuk kelompok. Pada umumnya, pembentukan kelompok tersebut didasarkan pada faktor kedekatan dan kesamaan, baik dari segi latar belakang, minat, maupun kepercayaan, karena hal tersebut meningkatkan kenyamanan dan peluang berinteraksi. Seiring waktu, idealisme kelompok itu akan terbentuk, sehingga tak dapat dipungkiri sebuah kelompok akan mengalami ketidaksukaan atau ketakutan terhadap orang yang dianggapnya asing. Ketidaksukaan atau ketakutan tersebut yaitu dikenal dengan istilah xenofobia.

Xenofobia itu apa, sih?

Dilansir dari kumparan, xenofobia merupakan penyakit sosial yang bersifat ketidaksukaan akan sesuatu yang bukan dari golongan suatu kelompok yang dianut. Kata xenofobia sering digunakan oleh penulis era abad ke 19, lho Balamuda. Pada zaman itu, xenofobia menjadi istilah untuk menggambarkan kebencian terhadap orang asing yang berasal dari luar kelompoknya. Istilah xenofobia ini merupakan istilah lama, oleh karena itu xenofobia bagi orang-orang asing lebih dikenal dengan istilah rasisme.

Xenofobia dan rasisme sama atau enggak, sih?

Xenofobia dan rasisme sama-sama mengandung unsur diskriminatif dan memiliki pengertian yang tumpah tindih. Rasisme merupakan istilah untuk perilaku diskriminasi yang dipicu oleh perbedaan yang berbau suku, agama, ras, dan golongan (SARA). Sedangkan xenofobia tidak memandang karakter fisik, hingga semua orang asing dianggap berbeda dan akan mendiskriminasi kelompok yang tidak berasal dari kelompok mereka.

Xenofobia punya gejala lho Balamuda, bagaimana ya mengatasinya?

Menukil dari IDNtimes, gejala xenofobia yaitu takut bahkan sampai marah jika dekat dengan orang yang berbeda. Xenofobia akan memberi kesimpulan dan steretiotipe tersendiri tentang orang lain yang ditakuti, tidak bisa percaya dengan orang lain yang berbeda, menghindari daerah tinggal orang berbeda, dan memiliki kesenangan jika memperlakukan buruk terhadap orang yang berbeda tersebut.

Xenofobia bisa diatasi dengan memberikan pemahaman pada penderita xenofobia terhadap keberagaman dan perbedaan. Namun, jika gejala tersebut sudah parah, maka harus didatangkan ahli psikologis untuk memperbaiki kesehatan mentalnya, seperti itu ya Balamuda.

Yuk, mari kita beri ruang pada diri sendiri untuk menerima perbedaan sehingga terhindar dari xenofobia.

(Rizka Amelia)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *