Perkuat Daya Tahan Pesantren terhadap Ekstremisme Kekerasan

Irfan Abu Bakar selaku peneliti resilien yang ada pada tiap pesantren.


Center for The Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta mengadakan Webinar Nasional dengan tema “Memperkuat Daya Tahan Pesantren terhadap Ekstremisme Kekerasan,” pada Rabu (29/07). Webinar tersebut diselenggarakan melalui Zoom Meeting dan streaming youtube CSRC UIN Jakarta. Terdapat empat narasumber utama, diantaranya yaitu Prof. Dr. Azyumardi Azra, CBE., dari Cendikiawan Muslim, kemudian K.H. Jazilus Sakhok, Ph.D., dari Koordinator Jaringan Pesantren for Peace, lalu Dwi Rubiyanti Kholifah, M.A., dari Country Representative AMAN Indonesia, serta Irfan Abu Bakar, M.A., dari Peneliti Senior CSRC UIN Jakarta.

Peneliti Senior CSRC, Irfan Abu Bakar M.A., menjelaskan, berdasarkan hasil penelitian dirinya beserta tim sejak Desember 2019 lalu, pesantren bukanlah asal muasal dari radikalisme. Resiliansi atau ketahanan pada umumnya memiliki tiga pengertian, yakni kepentingan atau fleksibel, tidak mudah sakit atau terpengaruh, dan cepat pulih.

“Pengertian tersebut berlawanan dengan pengertian ekstremisme. Resiliensi komunitas berkaitan dengan koneksitas sosial. Terkait dengan pesantren, kami meneliti resiliensi komunitas untuk beradaptasi agar hubungan terjalin fleksibel, tidak mudah terpengaruh dan cepat pulih bila sempat terpengaruh,” ungkapnya.

Dirinya menambahkan, terdapat beberapa ciri pesantren yang telah menerapkan resilien yaitu, pertama, identitas pesantren kuat. Kedua, membangun jembatan sosial dengan masyarakat sekitar sehingga timbul toleransi antar umat beragama lainnya. Ketiga, memiliki jaringan yang terintegrasi ke dalam tujuan nasional.

“Pembangunan resiliensi dalam pesantren dapat dilakukan dengan empat cara diantaranya, pertama, menjauhkan kontak dengan ideologi dan radikal. Kedua, mendelegitimasi ideologi radikal. Ketiga, menghilangkan prasangka kebencian. Keempat, mengatasi isu umat Islam yang dizolimi,”sebutnya.

Cendikiawan sekaligus Guru Besar UIN Jakarta, Prof. Azyumardi Azra, CBE, mengatakan, pesantren merupakan sub kultur yang mengutamakan pendidikan Islam. Kebijakan pemerintah terkait pesantren belum sepenuhnya terealisasi. Namun, undang-undang pesantren saat ini sudah jauh lebih berkembang.

“Sekalipun pesantren merupakan sub kultur, artinya terdiri dari beberapa budaya, namun tujuan utamanya adalah mempertahankan nilai keislaman,” ujarnya.

Dirinya menambahkan, terdapat beberapa alasan yang membuat sistem pendidikan Islam dinilai lebih progresif yaitu karena adanya aspirasi yang diberikan pemerintah terhadap pendidikan Islam. Selain itu,  aspirasi orang tua yang menginginkan anaknya bukan hanya unggul dalam bidang Islam, namun unggul pula pada bidang umum.

“Yang terpenting dilakukan saat ini adalah memperkuat Islam wasathaniyyah atau Islam nusantara, Islam yang moderat. Dengan begitu, ketahanan terhadap ektremisme tidak mampu menggoyahkan,” tegasnya.

(Milla Rosa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *