Kenali dan Kritisi Lebih Jauh Peristiwa G30S/PKI

Monumen sejarah G30S/PKI. Sumber foto: unida.gontor.ac.id


Komunisme merupakan ideologi yang dilahirkan oleh Karl Marx, seorang  filsuf sekaligus pakar ekonomi dan politik. Paham komunis sempat berkembang masif di Indonesia hingga pada 30 September terjadi peristiwa yang disebut dengan G30S/PKI, yaitu gerakan yang terjadi hingga satu Oktober di Jakarta dan Yogyakarta. Enam perwira tinggi dan satu perwira menengah Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam upaya kudeta. Oleh sebab itu, setiap 30 September kita perlu mengenang peristiwa tersebut untuk diambil pelajarannya.

Dosen Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), pengampu mata kuliah Pengantar Ilmu Sejarah, Johan Wahyudi, M.Hum menuturkan, komunisme muncul sejak 1920-an dibawa oleh pemikir Belanda seperti Bergsma dan Sneevliet. Para tokoh bangsa yang ikut dalam gerakan komunis, awalnya adalah para pejuang yang secara tidak langsung menyadarkan masyarakat akan perlunya mengonsolidasikan kekuatan melawan belanda.

”Namun, sejak 1945, gerakan komunis, melalui Partai Komunis Indonesia (PKI) banyak bersinggungan dengan ideologi lain, termasuk dengan nasionalisme, militerisme dan Islam. Di sinilah mulai ada peminggiran PKI sebagai konsekuensi pertarungan politik,” lanjutnya.

Dirinya menilai, dewasa ini komunisme hanya dijadikan konten politik untuk memperkeruh suasana persatuan, kebangsaan dan bernegara. Model pemerintahan dengan aplikasi empat pilar kebangsaan dan pengawasan terstruktur dari pemerintah masih cukup kuat menjaga ketahanan ideologi masyarakat, serta harmonisasi antar sesama.

“Saya rasa peran Islam penting dalam membina kerukunan antar umat beragama dengan mengedepankan wajah Islam yang ramah, penuh senyum, santun, dan senantiasa mengedepankan aspek musyawarah,” tutur Johan.

Dosen FAH, pengampu mata kuliah Teori-Teori Ilmu Sosial dalam Sejarah, Drs. Jajang Jahroni, M.A.,Ph.D., mengatakan, Peristiwa G30S/PKI merupakan lembaran hitam sejarah Indonesia. Menurutnya, banyak kabut yang menyelimuti peristiwa ini, faktanya banyak teori yang membantah PKI dalang pembunuhan di malam 29 September.

”Kita penting untuk melihat sejarah dengan lebih kritis. Pasalnya, banyak teka-teki yang belum terpecahkan seputar G30S/PKI. Maka, sejarah harus ditafsirkan ulang, dilihat lebih kritis, diuji kembali, agar kebenaran terkuak,” tuturnya.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian  kepada Masyarakat (LP2M) UIN Jakarta tersebut menilai, banyak hikmah dalam mempelajari sejarah masa lalu bangsa. Sejarah mengajarkan kita untuk mencari kebenaran meskipun jalannya panjang. Saya menilai, kebangkitan komunisme dan PKI merupakan isu yang terlalu dibesar-besarkan oleh kelompok tertentu.

(Falah Aliya)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *