Hari Kesaktian Pancasila: Bentuk Penghayatan Nilai Pancasila Guna Menjawab Problematika

Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober, pertama kali ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri atau Panglima Angkatan Darat pada 17 September 1966. Peringatan tersebut bertujuan untuk menngingatkan kembali akan pentingnya nilai yang terkandung adalam setiap sila Pancasila, khususnya bagi kehidupan bangsa Indonesia. Lalu, bagaimana pemaknaan Pancasila selama mewabahnya pandemi?

Dosen Pancasila Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), Ali Irfani, M. HI., mengatakan, makna Hari Kesaktian Pancasila yaitu sebagai hari yang disepakati bersama bahwa Pancasila adalah idelogi bangsa Indonesia yang tidak dapat digantikan.

“Hari Kesaktian Pancasila adalah bentuk dari penghayatan nilai-nilai yang terkandung didalamya. Pancasila merupakan komitmen kerakyatan dan kebangsaan kita, siapapun yang kemudian menetangnya sama saja dengan melawan kehendak rakyat,” ungkap Ali pada Rabu (30/09).

Menurut Ali, dalam kondisi apapun terutama kondisi pandemi seperti sekarang, sebagai bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi ideologi yang dimiliki, maka bangsa Indonesia harus tetap pada komitmen kebangsaan untuk bersama melangkah, demi tercapainya cita-cita menjadi bangsa yang merdeka terutama dari pandemi yang sedang mewabah sekarang.

“Saling bekerja sama dengan terus mematuhi protokol kesehatan merupakan salah satu cara memaknai Hari Kesaktian Pancasila. Karena dengan begitu, Indonesia dapat keluar dari tekanan akibat krisis besar,” ujarnya.

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Kesejahteraan Sosial (Kessos), semester tiga, Khosyi Muttaqien Sugandi menuturkan, penghayatan nilai-nilai Pancasila dengan mengaplikasikannya di kehidupan, menjadi salah satu cara untuk memperkokoh bangsa Indonesia, khususnya di kondisi pandemi seperti sekarang yang menuai problematika baru.

“Pancasila merupakan idelogi pemersatu bangsa Indonesia yang tidak dapat diubah. Jika kita terus menghayati tiap-tiap nilai yang terkandung di dalam Pancasila, maka hal tersebut akan menjadi jawaban dari problematika yang dihadapai saat pandemi ini, khusunya juga demi membangkitkan kembali kesejahteraan sosial masyarakat yang menjadi permasalahan utama,” ujar Khosyi (30/06).

Menurut Khosyi, problematika yang terjadi sekarang di Indonesia bukan hanya menjadi persoalan yang harus dijawab hanya oleh pemerintah, akan tetapi seluruh elemen bernegara, baik pemerintah ataupun masyarakat memiliki tugas yang sama pentingnya yaitu saling bahu membahu, untuk membantu sesama guna memabngkitkan kembali rasa kesejahteraan sosial dan juga keadilan sosial.

(Kiki Farika Geatalva)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *