Iqbal Akmaludin: Belajar Hakikat Kebijaksanaan dan Keteladan Peradaban melalui Sejarah

Muhamad Iqbal Akmaludin, pria kelahiran Tasikmalaya, 22 Mei 2000 ini seorang mahasiswa UIN Jakarta, Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), jurusan Sejarah Peradaban Islam (SPI), semester lima. Iqbal merupakan sosok yang mencintai sejarah, menurutnya melalui sejarah dirinya dapat menganalisis kesalahan yang terjadi sebelumnya, menganalisis data, mencari sumber data yang akurat, mengkritisi sumber data, serta menemukan sosok guru dan tokoh hebat. Prinsip hidupnya yaitu mengamalkan tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi dengan tidak mengubah tradisi lama.

Iqbal merupakan siswa SDN Sukasirna, kemudian melanjutkan pendidikannya di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Sukamanah, lalu  meneruskan di Madarasah Aliya Negeri (MAN) 1 Tasikmalaya, dan saat Iqbal menduduki jenjang sekolah menengah dirinya sekaligus menjadi santri di Pesantren KH. Zainal Musthafa Sukamanah Tasikmalaya. Iqbal pun lanjut menjadi Mahasantri di Pondok Pesantren Darus-Sunnah, ketika memasuki bangku kuliah tepatnya saat semester tiga di 2019.

Sejak di bangku MTs, dirinya sudah mencetak prestasi seperti,  Juara 1 Lomba Cepat Tepat (LCT) MIPA & PAI tingkat SMP/Sederajat se-Priangan Timur di MA Al Amin 2015, Juara 1 LCT MIPA Tingkat SMP/Sederajat se-Jawa Barat di SMAN 1 Tasikmalaya 2015, Juara 3 Drama Bahasa Inggris dan The Best Actor se-Pulau Jawa di SMA Riyadhul Ulum Condong 2014, Juara 1 Lomba tingkat 2 Pramuka Sukarame.

Saat di bangku MAN, dirinya kembali mengikuti ajang perlombaan yaitu, Juara 3 AKSIOMA Matematika se-Kabupaten Tasikmalaya 2017, Juara 1 Hiking EXPRESI Pramuka Se-Jawa Barat di SMK Al Hasanah 2016, Juara 1 Hiking KOMPAS Pramuka di MAN 1 Kota Tasikmalaya 2016, Juara 2 Pramuka Madrasah se-Jawa Barat 2017, Juara Umum Ujian Akhir Pesantren Sukamanah 2018, predikat santri teladan di Pesantren Sukamanah. Ketika dirinya memasuki dunia perkuliahan, Iqbal memperoleh  Juara 1 Lomba Debat Ma’had UIN Jakarta 2019, dan Juara 2 Lomba Cek Fakta antar-Mahasiswa se-Jakarta 2019 yang diselenggarakan oleh Mafindo bekerja sama dengan Google Indonesia.

“Kita harus bisa menanamkan dalam hati untuk berlomba-lomba dalam kebaikan atau fastabiqul khairat. Jika kita menang dalam perlombaan tandanya kita.memiliki kelebihan dan itu nikmat dari Allah SWT. Namun saat kita tidak juara, kita harus introspeksi dan menempa diri agar lebih baik,” ujar Ketua Umum Angkatan Pesantren Sukamanah periode 2017-2018.

Tak hanya dalam soal prestasi, dalam hal organisasi pun dirinya tak kalah aktif. Pengalamannya dalam berorganisasi dimulai saat MTs dengan mengikuti osis dan pramuka. Kemudian, saat di MAN dirinya mengikuti latihan dasar kepemimpinan siswa dan menjadi salah satu peserta terbaik serta menjadi wakil ketua osis saat itu. Di bangku perkuliahan dirinya menjadi anggota Divisi Keislaman Himpunan Mahasiwa Jurusan (HMJ) SPI UIN Jakarta 2019, dan anggota Majelis Permusyawaratan Mahasantri (MPM) sepadan dengan Senat Mahasiswa (Sema) di kampus.

“Untuk menyeimbangkan prestasi akademis dan non akademis, jangan lupa beribadah karena apabila kita telah saleh dalam hati dan kuat secara spiritual, maka dalam intelegensi pun akan seimbang,” ungkap Iqbal.

Iqbal merupakan sosok pencinta sejarah. Menurutnya, sejarah penting karena dapat melihat suri tauladan Nabi Muhammad SAW, belajar mengambil hikmah dari peristiwa runtuhnya Dinasti Abbasiyah, semangat Muhammad Al-Fatih dalam menaklukan Konstantinopel, menanggulangi pandemi, dan mencintai diri sendiri serta orang sekitar. Selain itu, kita dapat mengetahui bagaimana Abu Hurairah meriwayatkan hadits, Umar Bin Abdul Aziz memimpin Dinasti Umayyah dengan adil, dan Khalifah Harun Ar-Rasyid memimpin peradaban Abbasiyah menuju peradaban tertinggi di dunia.

“Bagi mereka yang meyepelekan dan melupakan sejarah mungkin bisa berkembang, tetapi nilai perkembangannya tidak akan setinggi mereka yang mempelajari sejarah. Dengan sejarah seorang bisa introspeksi dirinya atas kesalahan yang dahulu. Apabila kita tidak mementingkan sejarah islam, maka akan terputus koneksi kita dengan umat terdahulu dimana dari mereka kita belajar lebih baik,” jelasnya.

Menurutnya, generasi muda tidak malas dalam mempelajari sejarah namun, mereka tidak memiliki minat untuk membaca buku sejarah. Karena itu, meningkatkan metode pembelajaran sejarah dengan memanfaatkan teknologi penting, agar anak muda bisa lebih dekat dengan  sejarah.

(Falah Aliya)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *