Peringatan Dini Tsunami Gemparkan Publik, Berikut Tinjauan Segi Psikologi Hingga Agama

Peringatan dini tsunami, jadikan diri lebih siap dan terus mendekatkan pada Sang Ilahi. Sumber foto: nasionalokezone.com


Beberapa pekan terakhir, publik dihebohkan dengan riset Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengenai gempa dan tsunami. Pakar tsunami dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko mengonfirmasi, berdasarkan model skenario kebencanaan, tsunami dengan skala yang kuat bisa terjadi jika segmen megathrust di sepanjang Jawa terjadi bersamaan. Hal tersebut tentu membuat masyarakat cemas,  namun rasa cemas yang dialami  perlu diperhatikan, guna menjaga kestabilan psikis.

Dosen tetap Fakultas Psikologi (FPsi), Mulia Sari Dewi, M.Si., Psikolog mengatakan, peringatan tersebut membuat masyarakat menjadi waspada dan ketika peringatan dini dikeluarkan oleh lembaga pemerintah yang kompeten, maka penting bagi masyarakat untuk menyikapinya dengan serius dan memahami peringatan tersebut memiliki tujuan yang baik. Tujuan tersebut yaitu untuk melindungi dari ancaman bahaya tsunami. Informasi tersebut harus ditindaklanjuti dengan edukasi pada masyarakat dan persiapan lainnya oleh lembaga terkait untuk mengantisipasi atau meminimalisir resiko yang terjadi nantinya.

“Bagi sebagian orang, peringatan ini bisa saja membuat seseorang jadi merasa cemas, khawatir dan takut. Terutama bagi mereka yang tinggal di daerah yang berisiko terancam tsunami. Peringatan ini dapat ditanggapi oleh mereka sebagai suatu ancaman yang dapat membahayakan diri, keluarga, dan juga membahayakan masa depan,” katanya.

Dirinya menjelaskan, cara agar tenang dalam menghadapi situasi yang belum tentu terjadinya antaralain, pertama, menyadari bahwa Indonesia merupakan wilayah yang rentan bencana alam, arahkan kesadaran ini pada usaha mempersiapkan diri, apabila bencana tersebut benar dating. Kedua, bangun mindset positif mengenai bencana. Ketiga, mindfulness yaitu fokuslah pada apa yang tengah dilakukan saat ini.

“Kondisi jiwa kita bergantung pada pemikiran. Ketika pikiran tersebut fokus memikirkan hal yang belum pasti terjadi, hal ini bisa dikatakan orang tersebut mengalami overthinking. Agar tidak overthinking, maka harus bisa mengendalikan pikiran tersebut. Jangan berpikir terlalu jauh, tetap fokus pada apa yang dijalani sekarang,” tambahnya.

Ketua Lembaga Dakwah Kampus Syahid (LDKS) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), Muzammil Fatah mengatakan, Allah memberikan Musibah yang datang ini agar kita selaku manusia dapat bermuhasabah dan memperbaiki diri, serta mengambil hikmah yang terjadi. Sebab, di setiap kejadian sudah pasti terdapat hikmah yang dapat kita sebagai manusia ambil. Semua yang terjadi sudah berdasarkan ketentuan-Nya.

“Musibah yang terjadi merupakan bentuk peringatan Allah kepada manusia, khususnya umat muslim. Dalam Al Quran telah menyebutkan bahwa setiap musibah dan bencana adalah akibat perbuatan dan kesalahan manusia,” ungkapnya.

Dirinya menjelaskan, dalam islam kiamat dibagi menjadi dua, yakni kiamat besar dan kecil. Bencana alam yang terjadi merupakan kiamat kecil atau yang disebut sebagai kiamat sugra. Sama seperti halnya, meninggalnya seseorang, bencana banjir dan tanah longsor, gempa bumi dan tsunami, serta bencana gunung meletus dan sebagainya.

“Oleh karena itu, fokuslah untuk terus memperbaiki diri dan beramal soleh dan menebar kebermanfaatan,” tuturnya.

(Milla Rosa)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *