Perlunya Kolaborasi Antara Tenaga Pengajar, Siswa, dan Orang Tua Saat PJJ

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang berlangsung selama pandemi terus menuai problematika baru di dunia pendidikan. Namun, satu persatu problematika menemui titik terangnya. Seperti salah satunya mengenai kuota internet yang baru diresmikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bagi tenaga pengajar dan siswa. Namun, kendala lain muncul seperti teknis pengajaran yang justru menjadi problematika dan harus mendapat perhatian khusus bagi tenaga pengajar. Pasalnya, beberapa orang tua dan siswa sekolah dasar sampai sekolah menengah mengaku kewalahan terhadapp teknis PJJ.

Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), jurusan Pendidikan Biologi, semester tiga, Siti Masruroh mengungkapkan, kendala yang dialami siswa wajar karena adanya keterbatasan baik fasilitas ataupun ruang gerak. Fenomena ini memang membuat banyak orang dilema.

“Hal tersebut karena di satu sisi banyak anak yang harus mendapatkan hak pendidikannya. Namun, di sisi lain kita juga tidak tahu bagaimana sulitnya satu orang guru untuk mengkoordinir seluruh peserta didiknya,” tutur Yoyoh sapaan akrabnya, pada Rabu (30/06).

Dirinya mengatakan, kondisi saat ini yang dibutuhkan adalah kerja sama antara tenaga pengajar, siswa, dan juga orang tua sebagai pendamping. Peran guru di sini dituntut untuk lebih aktif dan kreatif, agar tugas guru sebagai pengajar dan membimbing siswanya juga tetap berjalan dengan baik.

“PJJ ini memang bukanlah hal yang mudah bagi kita, perlu adanya adaptasi tingkat tinggi untuk menjalankan PJJ ini. Menurut saya, baik siswa maupun guru, memiliki perannya masing-masing untuk mensukseskan PJJ ini. Guru harus lebih kreatif, siswa dan orang tua juga harus mandiri dan kreatif,” ujarnya.

Dirinya menambahkan, orang tua pun memiliki andil yang cukup besar agar anak dapat belajar secara mandiri dan menikmati PJJ. Guru juga memiliki andil yang besar dalam menyampaikan suatu materi dan begitu pun siswa. Jika hal tersebut dilaksanakan bersama maka akan menghasilkan sesuatu yang baik.

Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Bandar Lampung, Muhammad Haikal Maulana mengatakan, dirinya terkendala dengan sistem PJJ yang ada di sekolahnya. Guru menjelaskan seadanya, bahkan ada yang tidak menjelaskan sama sekali dan hanya memberi tugas.

“Semoga ke depannya akan ada perubahan sistem pembelajaran yang pasti dan mengatur mengenai PJJ agar lebih optimal,” harapnya.

(Kiki Farika Geatalva)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *