Hari Kesaktian Pancasila, FDIKOM Gelar Diskusi Dosen Seri Ke-9

E-flyer Diskusi Dosen FDIKOM, pada Kamis (01/10), melalui Zoom Meeting.


Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) mengadakan Webinar Diskusi Dosen seri ke-sembilan dengan mengusung tema Radikalisme Agama-Agama dan Masa Depan Pemberantasannya di Indonesia, melalui Zoom Meeting, pada Kamis (1/10). Webinar tersebut sebagai bentuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila dalam memerangi radikalisme. Radikalisme yang identik dengan Islam menjadi poin penting tema pembahasan, untuk meluruskan pandangan masyarakat tentang hakikat Islam.

Dosen FDIKOM dan pembicara pertama, Dr. Syamsul Yakin, M.A., mengatakan, terdapat tiga tipe aksi radikal, yaitu kekerasan sistemik yang permanen, kekerasan aktual yang responsif, dan kekerasana simbolik yang diekspresikan melalui tulisan, perkataan, dan buah pikir. Ketiga kekerasan tersebut memiliki bahaya dan perlu diperhatikan oleh masyarakat.

“Cita-cita kaum radikal adalah ingin memperjuangkan syariah. Mereka ingin membangun khilafah dan menciptakan tatanan sosial politik, yang mencerminkan kebenaran Ilahi. Banyak ayat Al-Quran yang disalahpahami oleh kaum radikal, sehingga menjadi justifikasi perbuatan mereka, ”jelasnya.

Dosen FDIKOM dan pembicara kedua, Hudri, M.A., mengatakan, pengertian dan definisi radikal  telah menjadi masalah sejak kejadian 11 September di Amerika. Radikal dapat berarti positif dan negatif, namun setelah kejadian 11 September tersebut, maka radikal selalu identik dengan negatif.

“Radikalisme merupakan isu berasal dari barat, sedangkan di timur tidak ada persoalan tersebut, karena masyarakat sudah sering berperang. Radikal adalah proses sosialisasi yang mengarah dengan menggunakan kekerasan dan dapat diartikan sebagai perilaku kolektif. Radikal itu sumber masalah, karena orang mendefinisikannya bermacam-macam,” jelasnya.

Dosen FDIKOM sekaligus pembicara keempat, Tasman, M.A., mengatakan, terdapat perbedaan dalam kata Islam dan Islamisme yaitu Islam adalah seperangkat ajaran yang datangnya dari Allah diturunkan melalui wahyu, sedangkan Islamisme adalah seperangkat ideologi yang berkeyakinan Islam harus menjadi pedoman bagi segala kehidupan manusia baik sosial, ekonomi dan budaya.

“Menurut hasil survei, Indonesia sudah cukup moderat. Meski begitu masyarakat tetap perlu waspada karena saat ini, paham radikal dapat disalurkan melalui agen sosialisasi. Islamisme yang semakin dekat dapat menjadi radikal, ekstremis bahkan terosis, sebab Indonesia mengalami pembalikan wajah Islam dari ramah, baik dan santun, menjadi Islam yang identik dengan kekerasan dan radikal,” ungkapnya.

(Rizka Amelia)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *