Buku Jungkir Balik Pers Sebagai Interpretasi Pers Masa Kini

Penulis Buku Jungkir Balik Pers, Nasihin Masha saat memaparkan webinar dan bedah buku.


Pusat Pengkajian Komunikasi dan Media (P2KM) Fakultas Dakwah Dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) mengadakan Bedah Buku Jungkir Balik Pers karya Nasihin Masha, serta Webinar Nasional dengan tema “Jurnalisme di Masa Pandemi Covid-19”, pada Kamis (08/10). Pers merupakan agen penting dalam pemberi informasi kepada masyarakat. Hal tersebut bersanding dengan kesulitan yang dialami para jurnalis, bagaimana mereka harus tetap berkerja dalam ancaman Covid-19.

Penulis Buku Jungkir Balik Pers sekaligus Pemimpin Redaksi Republika 2010-2016, Nasihin Masha mengatakan, jurnalisme selama pandemi Covid-19 menjadi isu penting untuk dikaji. Dalam buku tersebut ditulis bagaimana pers harus melawan tantangan Covid-19, dan dampak keadaan pandemi kepada pers.

“Dampak bagi pers saat ini mengalahkan dampak pada era colonial, dimana mereka dihadapkan dengan flu spanyol pada 1917. Padahal korban flu spanyol masih jauh lebih besar dari korban Covid-19, namun pers saat ini lebih mengalami banyak kesulitan dalam menjalankan tugas, karena faktor dari perusahaan media yang menaunginya,” jelasnya.

Dirinya menambahkan, saat ini media sudah dikuasai dengan teknologi. Satu sisi teknologi memberikan kemudahan, namun di sisi lain juga menjadi pengendali. Dalam komunikasi, teknologi memberikan kemudahan, namun juga menjadi pengendali yang terpusat. Artinya, informasi bisa jadi tak kerkendali, karena manusia tidak lagi mampu untuk mencerna informasi yang dikendalikan oleh teknologi.

Dosen FDIKOM sekaligus Dewan Pembina P2KM, Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si., mengatakan, Buku Jungkir Balik Pers sangat baik untuk dikonsumsi dan memperkuat literasi, baik itu literasi media ataupun literasi politik. Arti penting kehadiran buku ini yaitu sebagai memoar jurnalis, menjelaskan dinamika pers di Indonesia, serta menggambarkan ruang media adalah sebuah realitas konflik dan ketimpangan.

“Kelebihan dari buku ini adalah analisis dan ulasan yang mendalam tentang suatu peristiwa. Tulisan ini menggunakan gaya penulisan populer, tidak terlalu mengikuti standar akademik, sehingga narasi lebih mengalir ketika menceritakan penulis sebagai pelaku pers,” ujarnya.

Dirinya menambahkan, posisi media turut menentukan pemberitaan menjadi isu penting atau biasa saja. Perlu diketahui, media tidak hanya saluran tetapi juga aktor dalam kekuatan media massa. Kekuatan media dalam proses konstruksi realitas, yaitu memiliki kekuatan dalam produksi, persuasi perubahan status pro, pembentukan opini jika menemukan isu publik yang bisa diterima banyak pihak, dan diterima bersama baik sifatnya individu atau kolektif.

(Rizka Amelia)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *