Webinar Kemen PPN: Toleransi Beragama untuk Dukung Pembangunan Berkelanjutan

Rektor UIN Jakarta Periode 1998-2006, Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A., CBE., saat acara webinar berlangsung.


Masalah keagamaan menjadi salah satu aspek yang terus dikaji dalam pembangunan berkelanjutan. Pasalnya, tingkat kekerasan dan diskriminasi kerap terjadi akibat intoleransi beragama. Berdasarkan hal tersebut, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Kemen PPN), mengadakan webinar nasional Solidaritas dan Kerukunan Antarumat Beragama, pada Kamis (26/11). Hal tersebut selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 16, yaitu sebuah gerakan menghapus segala bentuk kekerasan atas dasar apapun, terutama masalah intoleransi beragama.

Menteri PPN, Suahrso Monoarfa mengatakan, tidak ada satupun negara yang siap menghadapi pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Dampak pandemi ini tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan saja, sektor ekonomi dan sosial pun berdampak, seperti meningkatnya kasus kriminalitas dan kekerasan, baik di dalam rumah tangga dan lingkungan di masyarakat. Pemerintah menjadikan pandemi sebagai momentum untuk melakukan koreksi dalam pembangunan berkelanjutan.

“Pembangunan berkelanjutan melihat segala aspek kehidupan. SDGs no 16 menargetkan untuk menghapus segala bentuk kriminalitas sosial, baik itu diskriminasi, eksploitasi, penyiksaan, dan segala bentuk kekerasan yang merenggut hak asasi. Hal seperti ini masih ditemukan di Indonesia, maka saat seluruh masyarakat Indonesia mengalami pandemi Covid-19, ini menjadi saat yang tepat untuk bangkit bersama dan menciptakan solidaritas antar umat beragama,” ungkapnya.

Dirinya mengajak masyarakat, untuk menjadikan SGDs nomor 16 sebagai katalisator dalam mewujudkan tujuan SDGs lainnya. Hal ini sejalan dalam pembangunan nasional di Indonesia, yakni meningkatkan sumber daya manusia yang humanis dan anti kekerasan.

Rektor UIN Jakarta Periode 1998-2006, Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A., CBE., mengatakan, jika merenungi kerukunan dan harmoni hidup beragama dalam SDGs nomor 16 dan pandemi Covid-19, maka masyarakat perlu bersyukur tinggal di Indonesia. Indonesia negara yang plural dari banyak segi, baik suku, etnis, budaya, agama, dan sistem sosial politiknya. Namun, hal tersebut yang menjadikan Indonesia tetap bersatu.

“Sejak dahulu Indonesia terdiri dari berbagai agama, baik besar maupun kecil. Kita hidup di kepulauan nusantara yang disambungkan oleh laut, sehingga kemungkinan suku bangsa memiliki keterbukaan kosmopolitanisme toleransi, dan itu menjadi karakter atau ciri khas dari negara yang terdiri dari banyak pulau dan budaya yang berbeda,” jelasnya.

Dirinya menambahkan, intoleransi dalam kehidupan beragama wajar, tetapi banyaknya pemikir di Indonesia yang merealisasikan sebuah realitas, bahwa Indonesia tidak dapat berpecah belah. Perlu adanya penyatu untuk mengikat mulai dari Sabang hingga Merauke. Hal tersebut adalah Bhineka Tunggal Ika, inilah yang menjadi dasar pembangunan berkelanjutan harus tetap berjalan, demi mewujudkan Indonesia yang lebih baik di masa depan.

(Rizka Amelia)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *