Cegah Informasi Hoaks Penerimaan Mahasiswa Baru

Jelang memasuki tahun ajaran baru bagi mahasiswa, tentu rangkaian ujian masuk di awal Januari sudah mulai direncanakan. Meskipun begitu, tak jarang ditemui informasi palsu yang berdampak pada persepsi masyarakat. Belakangan ini, beredar informasi bahwa lulusan Madrasah Aliyah (MA) tidak diperkenankan mengikuti Seleksi Nasional Masuk Pertguruan Tinggi (SNMPTN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi (SBMPTN). Namun, Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) membantah kabar tersebut. Ketua LTMPT, Mohammad Nasih menambahkan, kedua ujian tersebut hanya untuk jurusan umum saja. Sebab itulah, pemilihan informasi yang tepat perlu diperhatian.

Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Kesejahteraan Sosial terpilih, Khosyi Muttaqien mengatakan, terlepas dari hal tersebut tentunya dalam menentukan media yang diyakini sebagai sarana mendapatkan informasi yang valid. Calon mahasiswa baru harus mampu memilih media dengan selektif, karena kini sangat mudah bagi siapapun untuk membuat dan menyebarkan berita dan informasi yang tidak valid.

“Selalu lakukan check and recheck. Dengan begitu, kita dapat mengetahui apakah berita tersebut layak dijadikan acuan ataupun tidak,” katanya.

Hal yang paling mudah untuk terhindar dari informasi hoaks adalah dengan mencari sumber berita dan informasi dari laman ataupun media sosial yang terpecaya ataupun resmi. Perlunya memiliki kepekaan yang dapat diaplikasikan dengan menganalisa info yang diterima. Kemudian, pastikan apa yang disebarkan dapat dipertanggung jawabkan. Dengan beberapa langkah tersebut, setidaknya mengurangi resiko informasi yang bersifat hoaks.

“Sebagai mahasiswa, untuk membantu adik-adik yang berencana kuliah yaitu dengan cara memberikan informasi resmi dari perguruan tinggi yang kita ketahui,” tambahnya.

Wakil HPMS Kesejahteraan Sosial terpilih, Fachry Akbar menambahkan, mengingat hal ini harus ada ketegasan dari laman resmi tersebut untuk menindak penyebaran hoax tersebut. Sebab hal ini dapat merugikan pihak tertentu.

“Sebagai pembaca, harus teliti dalam melihat pemberitaan tersebut jangan mudah terpengaruh. Jika tidak memperhatikan hal tersebut, tentu diri kita sendiri yang akan dirugikan,” katanya.

Dirinya menambahkan, untuk memperkuat fakta yang dimiliki, hendaknya disertakan dengan bukti yang konkret. Disinilah peran mahasiswa sebagai penyambung informasi kepada masyarakat, terlebih mahasiswa yang memiliki pengalaman lebih dapat membantu dalam proses informasi penerimaan mahasiswa baru ini. Dengan begitu, masyarakat dapat meminimalisir penyebaran hoaks yang terjadi.

“Jika menemukan informasi yang kurang valid, bisa diadukan pada pihak yang berwenang pula,” tutupnya.

(Milla Rosa)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *