Perspektif Hukum dan Upaya Pencegahan Aksi Tawuran di Manggarai

Polisi membawa senjata gas air mata untuk membubarkan massa aksi tawuran di Manggarai, Jakarta Selatan pada Senin 18/01. Sumber foto: Kompas.com


Di tengah pandemi dan bencana yang menimpa tanah air, seperti tanah longsor, banjir, serta erupi gunung merapi, terdapat dua kelompok warga di kawasan Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan terlibat tawuran pada Senin (18/01). Kedua kelompok warga yang hanya berbeda RT ini, saling serang menggunakan kayu, batu, dan senjata tajam. Sejumlah polisi dikerahkkan untuk melerai aksi tawuran tersebut, diduga tawuran disebabkan saling ejek antar kelompok warga.

Pengurus divisi kajian Moot Court Community (MCC), Alliza Khovshov Zanuba Dalil menjelaskan, aksi tawuran pada umumnya dapat dikenakan Pasal 170 KUHP dan Pasal 358 KUHP. Pasal 170 KUHP, yaitu sanksi 5 tahun 6 bukan sampai 12 tahun penjara jika menyebabkan korban jiwa, selama ada pengrusakan bisa langsung dipidana.

“Sementara, dalam Pasal 358 KUHP, sanksi 2 tahun 8 bulan jika ada korban luka berat, dan 4 tahun penjara jika ada yang meninggal, pasal ini dapat digunakan hanya kalau ada korban. Sehingga, kalau untuk tawurannya sendiri bisa langsung pakai Pasal 170 KUHP dan kalau ada korban bisa ditambah dengan Pasal 358 KUHP,” jelas Alliza kepada Reporter RDK FM, Selasa (19/1).

Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), jurusan Hukum Pidana Islam, semester enam tersebut menilai, jalur hukum penting dikerahkan untuk menimbulkan efek jera terlebih jika ada korban jiwa, tapi sebaiknya dibicarakan dahulu secara baik-baik. Dirinya berharap, ke depannya warga sadar akan pentingnya toleransi dan menjaga satu sama lain.

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, jurusan Kesejahteraan Sosial (Kessos), semester empat, Raden Puspita Darmayanti menyebut, tawuran yang terjadi antar kelompok di Manggarai sudah sering kali terjadi dan sudah menjadi tradisi turun menurun dari generasi ke generasi.

“Tawuran ini dapat membahayakan keselamatan warga sekitar, bahkan merugikan secara fisik maupun materi seperti rusaknya fasilitas umum, hancurnya rumah warga bahkan menimbulkan korban jiwa. Pendidikan yang rendah bisa menyebabkan mereka tidak bisa berpikir akan bahaya dan kerugian yang dihasilkan dari tawuran,” pikir wanita yang akrab disapa Pita.

Sekretaris Umum (Sekum) Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Kessos tersebut menjelaskan, tawuran ini dapat dicegah jika semua pihak turut andil bekerja sama. Dari orang tua dengan memperketat pengawasan kepada anaknya, ketua RW dan RT mensosialisasikan warganya untuk tidak melakukan tawuran kembali. Polisi juga bisa berpatroli atau menjaga keamanan wilayah Manggarai agar selalu aman dari tawuran warga.

“Kita harus bijak dalam bergaul, jangan mudah tersulut emosi dan dipengaruhi oleh omongan orang lain, harus selalu ingat, tawuran ini tidak akan menyelesaikan permasalahan, justru akan memperpanjang permasalahan. Lakukanlah hal positif yang dapat berdampak bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar,” pesan Pita.

(Falah Aliya)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *