Pentingnya Dukungan Psikologis bagi Korban Bencana

Ilustrasi saat tim dukungan psikosial bermain bersama anak korban gempa bumi tsunami Palu pada Sabtu 6 Oktober 2018 lalu. Sumber foto: mediaindonesia.com


Akhir-akhir ini, tanah air kedatangan bencana silih berganti mulai dari tanah longsor, banjir, erupsi gunung merapi, gempa bumi, dan pandemi yang masih berlangsung. Sementara itu, masyarakat saling bergotong royong membantu para korban bencana melalui galangan dana. Namun, selain bantuan dana yang diperlukan, para korban bencana butuh dukungan secara psikologis. Lantas seberapa penting dukungan psikologis bagi para korban bencana?

Dosen Fakultas Psikologi (FPsi), pengampu mata kuliah Psikologi Klinis, Ilmi Amalia, M.Psi., menjelaskan, dalam standar penanganan korban bencana ada namanya Psychology First Aid (Pertolongan Pertama Psikologi) yang dilakukan oleh psikolog dan relawan bidang bencana yang terlatih. Hal ini penting, agar tidak ada korban yang mengalami ganguan psikologi yang lebih parah.

“Pemberian pertolongan pertama psikologi harus secara langsung agar efektif, dengan mendampingi dan melihat situasi kondisinya, menanyakan dan mendengarkan dengan penuh empati apa yang dirasa dan diperlukan, menstabilkan emosinya, dan mengarahkannya ke psikiater jika terdapat gangguan yang lebih parah untuk mendapatkan terapi lebih khusus,” sebutnya.

Ilmi menuturkan, biasanya korban mengalami Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau gangguan stres yang muncul setelah mengalami peristiwa traumatis. Gejalanya, yakni masih terkenang peristiwanya walaupun sudah lama, sering terbawa mimpi sampai terbangun, selalu menghindari hal yang berkaitan dengan peristwa tersebut, misal takut dan menghindari air setelah mengalami tsunami.

“Bahkan bisa sampai cemas berlebihan dan menggangu rutinitasnya, atau depresi karena kehilangan keluarga. Bagi individu yang bisa mengatasi stres dengan strategi yang efektif, misal  berpikir untuk cari solusi, bernyanyi, melakukan hobi, berdoa, curhat, dan optimis biasanya  akan cepat pulih ketimbang mereka yang pesimis dan bingung mengatasinya,” tekan Kepala Laboraturium FPsi tersebut.

Mahasiswa FPsi, jurusan Psikologi, semester sembilan, Lailah Kifahina menilai, dengan pemberian dukungan psikologis yang baik dan tepat maka, para korban akan lebih mudah menghadapi dan menerima kondisi mereka saat ini. Sehingga, dukungan psikologis itu sama pentingnya dengan dukungan material, seperti uang, tempat tinggal, dan makanan.

“Salah satu bentuk dukungan psikologis yaitu, psikososial dengan menjadi teman bercerita bagi para penyintas, memberikan edukasi tentang trauma dan depresi agar mereka tidak salah dalam mengartikannya. Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat perihal dukungan psikologis, bisa dengan memberikan info, edukasi, dan pelatihan untuk umum atau khusus bagi mereka yang memang mau turun di bidang psikososial,” imbuh ketua Komunitas Pencinta Alam (KPA) Mahachala tersebut.

Perwakilan komunitas yang aktif melakukan psikososial tersebut berpesan, perasaan takut, cemas, sedih saat baru mendapatkan bencana adalah perasaan yang normal untuk kondisi yang tidak normal. jika sudah berlarut-larut, baik dari korban, keluarga korban, atau lingkungan harus segera mencari bantuan seperti psikolog, agar cepat ditangani.

“Sayangnya, biaya dan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi kendala untuk memberi dukungan psikologis, mungkin yang aware banyak, tapi untuk yang bisa turun ke lapangan itu sedikit,” tutupnya.

(Falah Aliya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *