Pentingnya Dukungan Kesehatan Mental bagi Pelajar di Masa Pandemi

Ilustrasi Anak Stress Karena Pembelajaran Daring. Sumber: m.dream.co.id


Dampak pandemi yang dihadapi Indonesia, menyebabkan pemerintah melakukan kebijakan pembatasan sosial, termasuk kepada pembelajaran di sekolah maupun kampus. Para pelajar terpaksa untuk melakukan pembelajaran secara daring hingga saat ini. Lamanya periode pembelajaran secara daring pun menimbulkan stres di kalangan pelajar, sehingga dibutuhkan dukungan kesehatan mental bagi mereka, agar tetap menikmati proses pembelajaran tanpa merasakan beban dan kebosanan.

Dosen Fakultas Psikologi (FPsi) UIN Jakarta, Mulia Sari Dewi, M.Si, Psi., mengatakan, pemicu stres seorang pelajar saat pembelajaran jarak jauh bisa dari metode pembelajaran yang berbeda dengan biasanya saat tatap muka secara langsung, keterbatasan gadget yang dimiliki, termasuk adanya keterbatasan sinyal atau kuota internet, dan pemberian tugas sekolah yang tidak disesuaikan dengan kondisi siswa,  serta keterbatasan kemampuan pendamping anak.

“Berdasarkan hasil riset Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia 2020, semakin tinggi jenjang sekolah anak, maka semakin rentan mengalami gangguan kesehatan mental. Sehingga, guru dan orang tua berperan penting sebagai pendamping pertama bagi anak yang dapat menenangkan dan memberikan dukungan psikologis bagi mereka,” sebut Ketua Pusat Layanan Psikologi (PLP) UIN Jakarta

Mulia menjelaskan, peran orang tua dan guru penting bagi anak atau pelajar, misal menjadi pendengar yang baik atas semua keluhan dan perasaan anak, agar anak dapat mengeluarkan semua perasaannya, kemudian sebagai pendamping yang membantu anak menyesuaikan diri dalam situasi berbeda dan mengembangkan strategi pemecahan masalah yang efektif.

Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), jurusan Manajemen Pendidikan, semester enam, Zaahidah Faadhilah menilai, tidak interaktifnya pelajar saat proses pembelajaran, dipicu oleh rasa bosan yang ada pada diri sang anak, terlebih tidak adanya interaksi selain lewat virtual.

“Siswa bosan, bisa karena metode daring yang terlalu monoton, tidak seperti biasanya di sekolah, yaitu mereka bisa bebas berinteraksi dengan temannya, belajar bersama, sambil bereksplorasi di lingkungan sekolah serta ruang kelas, sehingga tidak timbul rasa bosan,” ujarnya.

Dirinya mengimbau, dalam mengatasi rasa bosan tersebut, dapat dilakukan metode pembelajaran yang lebih interaktif lagi, contohnya mengarahkan siswanya untuk membuat suatu hal yang mengasah kreativitas mereka, sehingga ada interaksi aktif, baik guru ke siswa, maupun antar siswa. Pada intinya, pembelajaran secara daring atau e-learning, dibutuhkan komunikasi antara guru, orang tua dan anak

“Sebagai pengajar, sebaiknya guru tidak hanya melakukan kewajibannya, tetapi tulus untuk mengajar anak agar dia aktif dan nyaman seperti biasanya mereka belajar secara tatap muka,” jelasnya.

(Rasya Azzahra)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *