Kajian Haji dalam Lintasan Sejarah Bersama Rektor UIN Jakarta

Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis, M.A., saat memaparkan materi


Sebagai rangkaian acara Kerja Sama Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umrah Profesional Angkatan ke-V Tahun 2021, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) menggelar kajian “Haji dalam Lintasan Sejarah”, bersama Rektor UIN Jakarta sebagai narasumber, pada Senin (15/3).

Rektor UIN Jakarta sekaligus narasumber, Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis, M.A., mengatakan, haji sebagai rukun islam yang wajib dilaksanakan setidaknya satu kali seumur hidup bagi yang mampu. Saat masa kerajaan, perjalanan haji sangat bergantung pada musim, karena dilakukan dengan perahu layar, sehingga hal tersebut menunjukan perkembangan ibadah haji dari masa ke masa.

“Pada masa penjajahan Belanda, pemerintah kolonial memanfaatkan calon haji untuk memperoleh penghasilan, dengan mempersulit urusan mereka. Namun, pada masa penjajahan Jepang justru haji semakin tidak diperhatikan, sehingga Indonesia tidak mampu memberangkatkan masyarakatnya haji,” jelasnya.

Dirinya menambahkan, hingga setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada periode 1948-1949, belum ada kesempatan berhaji, karena transportasi tidak memadai, stabilitas belum terjamin dan ekonomi rakyat hancur. Baru  pada 1949, pemerintah mulai menata pengelolaan haji, yang dilakukan oleh Penyelenggara Haji Indonesia (PHI), sehingga terjadi lonjakan jamaah. Akhirnya pemerintah mengeluarkan berbagai regulasi haji agar kondusif.

Mahasiswa FDIKOM, program studi Manajemen Dakwah (MD) semester empat, Muhammad Andryan Fitryansyah mengatakan, haji sebagai rukun islam yang terakhir, lantaran memiliki tingkat kesulitan dalam pelaksanaannya, dibanding empat rukun Islam lainnya. Meskipun demikian, banyak pelajaran yang dapat dipetik dalam melaksanakan haji dan umrah,di antaranya, memunculkan sifat sabar, melahirkan rasa solidaritas, dan meningkatkan kualitas ibadah.

“Sertifikasi pembimbing haji dan umrah sangat penting, agar mencegah orang yang tidak memiliki kualifikasi untuk memimpin, karena ibadah haji jamaah juga ditentukan oleh pembimbing haji dan umrahnya. Adanya sertifikasi haji dan umrah, masyarakat dapat merasa lebih terjamin oleh pembimbing haji dan umrahnya,” ujarnya.

(Subandi)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *