Hari Buku Anak Internasional Jadi Ajang Edukasi Bagi Anak

Buku adalah jendela dunia. Baik tua, muda, anak-anak, dewasa, semua memiliki ketertarikannya tersendiri dalam menentukan buku bacaan yang digemari. Contohnya, untuk menarik minat baca pada anak, buku disertai dengan gambar. Setiap 2 April diperingati sebagai Hari Buku Anak Internasional, yang diambil dari hari kelahiran sastrawan muda Hans Christian Andersen, penulis cerita anak-anak dengan karya terkenalnya seperti, The Little Mermaid  dan The Ugly Duckling. Penyelenggara Hari Buku Anak Internasional adalah dewan internasional tentang buku untuk anak muda atau Board Book On Books For Young People (IBBY).

Dilansir dari Rappler.com, untuk memperingatinya, Pustakalana menggelar Festival Hari Buku Anak (FHBA), di Taman Cinta Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Minggu 23 April mendatang. Kegiatan ini menjadi festival buku ramah anak dan keluarga pertama di Bandung. Namun, FHBA sebenarnya diadakan dengan latar belakang keprihatinan atas rendahnya minat baca di Indonesia. Berdasarkan World’s Most Literate Nations, yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016.

Koordinator acara utama FHBA, Yasmin Kartika Sari mengungkapkan, acara ini fokus untuk mengenalkan buku pada anak. “Sebab buku adalah jendela dunia dan merekalah generasi penerus di masa yang akan datang,” ujarnya. Yasmin menjelaskan acara ini tidak hanya memamerkan buku anak, tetapi juga disediakan berbagai permainan yang berdasarkan pada buku untuk menarik minat anak, sehingga anak-anak bisa mengenal buku lebih jauh lagi. “Tidak hanya untuk dibaca, tetapi bisa dijadikan alat untuk berinteraksi antara anak dan orang tua, dengan berbagai kegiatan yang merangsang imajinasi dan kreatifitas anak,” pungkasnya.

Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), jurusan Ilmu Perpustakaan (JIP), Farah Ghina Habibah mengaku, kegiatan FHBA sangat menarik untuk mengenalkan buku kepada anak dengan cara yang berbeda. Farah menjelaskan anak harus dikenalkan dengan buku sejak dini, agar timbul rasa ingin tahu yang lebih besar nantinya. “Karena menurutnya saat ini minat baca pada masyarakat sangat menurun terutama untuk pelajar, mengingat sudah ada google atau media sosial lainnya,” katanya. Farah berharap acara ini bisa terus berlanjut hingga tahun berikutnya, dan bisa memberikan yang lebih baik untuk masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak sebagai pemimpin masa depan bangsa.

(Syifa Kaltsum)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *