Ketua Dema UIN Jakarta: “Jangan Terjebak Masa Lalu, Mahasiswa Harus Menjadi Seperti Sosok Kartini”

Di era sekarang ini, banyak perempuan yang sadar akan sebuah perubahan melawan budaya patriarki yang menganggap perempuan tidak memiliki ruang untuk menunjukkan eksistensinya di ruang publik. Oleh sebab itu, Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) UIN Jakarta memberdayakan perempuan, khususnya untuk mahasiswi UIN, untuk turut andil merayakan Hari Kartinim sebagaimana ia adalah sosok yang berpengaruh dan peduli terhadap semangat emansipasi wanita.

Ketua Dema UIN Jakarta, Ahmad Nabil Bintang menjelaskan,  latar belakang diadakan pawai ini adalah, untuk memperingati International Women’s Day yang telah berlalu, kemudian dilanjutkan memperingati Hari Kartini. Dirinya juga menambahkan, tidak hanya di UIN Jakarta, di tatanan nasional pun, Joko Widodo melaksanakan apel pagi bersama Korps Polisi Wanita (Polwan) TNI wanita. “Di mana mereka menampilkan wanita tidak selemah yang dibayangkan, melainkan banyak wanita yang kuat dalam pembelaan negara,” ujarnya. Nabil mengungkapkan, pawai yang akan disuarakan ini mengajak kelompok primodial untuk ikut serta dalam pawai ini. “Nantinya mereka akan menyampaikan bagaimana posisi perempuan saat ini,” ujarnya. Terkait tema yang diambil untuk pawai ini adalah, Inspirasi Kartini Masa Kini, Berjiwa Nasional, Berwawasan Global”. “Makna dari tema ini mahasiswa saat ini masih terjebak dengan sosok pahlawan seperti Kartini, sedangkan untuk saat ini apakah ada mahasiswa yang memiliki jiwa seperti sosok Kartini? Untuk itu, kami ingin dengan adanya pawai ini, jangan sampai mahasiswa terjebak masa lalu, melainkan harus menjadi sosok Kartini itu sendiri,” tandasnya.

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), jurusan Ekonomi Pembangunan (EP) semester dua, Aini Khairunnisa mengatakan, sosok Kartini merupakan sosok yang sudah jelas dapat dijadikan panutan oleh seluruh perempuan Indonesia, di mana perempuan saat ini posisinya tidak lagi di belakang pria, tetapi sudah setara. Terkait apa yang dapat dilakukan perempuan di era modern ini, Aini mengungkapkan, tetap teguh dengan apa yang diimpikan. “Jangan menjadikan alasan sebagai perempuan, sehingga muncul keraguan dalam diri untuk berbuat lebih untuk diri sendiri maupun untuk bangsa Indonesia, karena sejatinya keberhasilan seseorang tidak ditentukan dari gender,” ungkapnya.

(Muhamad Fajan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *