Seminar dan Diskusi Bulanan Dosen Fdikom UIN Jakarta Kembali Digelar

Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) kembali mengadakan seminar dan diskusi dosen, dengan mengusung tema “Networked: Politics And Business In Decentralizing Indonesia 1998-2004”. Seminar kali ini diisi oleh Wahyu Prasetyawan, dan diskusi dimoderatori oleh Kiki Rizki. Kegiatan seminar dan diskusi dosen FDIKOM dimulai pukul satu siang di Meeting Room lantai dua, gedung Fdikom UIN Jakarta, Rabu (3/10).

Kepala Laboratorium Fdikom, Ade Masturi menuturkan satu hari di setiap bulan selalu diadakan diskusi dosen, tujuannya lainnya adalah agar makalah yang sudah dibuat, bisa direkomendasikan untuk dimasukkan ke dalam jurnal. “Agar karya-karya dosen Fdikom bisa dipublikasikan dan juga bisa menambah poin untuk fakultas dalam rangka meningkatkan mutu,” tuturnya.

Dosen Fdikom, Wahyu Prasetyawan menjelaskan, pola relasi bisnis dan politik dalam periode reformasi adalah salah satu bentuk transformasi dari pola relasi-relasi bisnis dan politik pada masa Orde Baru. Relasi ini melibatkan aktor-aktor pada sektor politik dan ekonomi melalui tindakan-tindakan yang dilakukan untuk membagi sumber daya negara, di mana praktek pencarian rente dilakukan secara terbuka pada rezim demokrasi. “Pencarian rente dalam periode reformasi ditransformasikan melalui pergantian rezim, dari rezim otoritarian Orde Baru ke rezim demokratis pada periode reformasi,” jelas Wahyu.

Dalam proses transformasi tersebut, pencarian rente berkembang tidak hanya di antara aktor-aktor ekonomi dan politik atau pemerintahan di tingkat pusat, namun juga meluas kepada aktor-aktor di tingkat lokal. “Perubahan dalam relasi kekuasaan dari pusat ke daerah mengubah peta korupsi yang dulu tersentralisasi menjadi menyebar ke area yang lebih kecil. Pola relasi bisnis dan politik bertransformasi melalui reorganisasi aktor-aktor bisnis pada masa Orde Baru kepada situasi politik saat ini, dalam rangka mengontrol sumber-sumber daya ekonomi. Kemunculan bisnis-bisnis baru sebagai kekuatan ekonomi baru, dan kehadiran aktor-aktor politik atau pemerintah yang masih didominasi oleh relasi relasi kekuasaan yang redatorial dan klientelisme,” paparnya.

(Galuh Alisha)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *