Unjuk Kepedulian, UKM Ranita Kirimkan Relawan dan Donasi ke Sulawesi Tengah

Bencana gempa bumi sebesar 7,4 Skala Ritcher (SR) dan tsunami telah menimpa Donggala dan Palu Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9) lalu.  Kondisi pemukiman yang rusak parah, membuat masyarakat di wilayah tersebut sangat kesulitan melakukan aktivitas dan sangat membutuhkan bantuan logistik. Sebagai bentuk kesadaran diri, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kelompok Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan (KMPLHK) Kembara Insani Ibnu Batuttah (Ranita) menurunkan anggotanya untuk menjadi relawan dan memberikan bantuan logistik bagi masyarakat di Palu dan Donggala.

Ketua umum Ranita, Ahmad Wildanul Akhyar mengungkapkan, Ranita memiliki divisi Disaster Management, maka Ranita mengirimkan bantuan ke tempat yang terkena bencana. Mahasiswa yang akrab disapa Dukaca ini melanjutkan, bantuan mulai dikirim dari Kamis (4/10) bersamaan dengan Ranita mengirimkan relawan ke wilayah tersebut. “Bukan hanya dari pengurus saja yang menjadi relawan, ada dua alumni Ranita pun ikut menjadi relawan. Bantuan yang diberikan juga ada titipan dari instansi lain,” ungkapnya. Hunian sementara, air bersih dan makanan menjadi bantuan yang sangat diperlukan. “Kendala dalam pembagian bantuan adalah sulitnya akses melalui darat karena ada beberapa daerah yang terisolasi. Jadi harus melalui udara menggunakan helikopter. Ditambah dengan kurang meratanya pemberian bantuan logistik ke setiap daerah,” kata Dukaca.

Selain itu, Dukaca menambahkan, daerah yang paling sulit diakses dan belum mendapatkan bantuan secara merata adalah Kabupaten Sigi, jadi diputuskan untuk lebih fokus ke desa tersebut. Menurutnya, ditambah banyak relawan yang jarang datang untuk memberikan bantuan ke sana. “Alhamdulillah kami turut mengajak warga setempat dalam pemberian bantuan logistik,” tuturnya. Dukaca mengaku, Ranita turut mengajak UKM lainnya dan Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Universitas untuk membantu memberikan donasi dan terlibat dalam UIN Peduli Palu. Untuk langkah selanjutnya, Dukaca menjelaskan Ranita membuat sekolah darurat yang akan membahas tentang tanggap darurat gempa bumi bagi anak-anak.

Mahasiswa asal Sulawesi, Soraya Luthfia Fathuddin mengatakan, banyak keluarganya yang berada di Palu sekarang masih sulit beraktivitas. “Karena gempa bumi dan tsunami menghancurkan rumah tinggal saudara dan kerabat saya. Bahkan ada saudara saya yang hanyut saat tsunami dan sampai saat ini belum ditemukan,” ungkap Soraya. Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) ini bersyukur karena keluarganya masih ada yang selamat dan mengungsi ke daerah gunung. “Daerah tempat keluarga saya mengungsi sempat terisolir, terlebih di gunung sulit mendapatkan sinyal. Namun setelah pemerintah memberikan wifi gratis, keluarga saya akhirnya bisa berkomunikasi untuk memberi kabar kepada anggota keluarga yang lainnya dengan mudah. Jalanannya pun sekarang sudah bisa diakses,” jelasnya. Sama halnya dengan yang dikatakan Dukaca, Soraya mengungkapkan bantuan  yang sangat diperlukan adalah makanan. “Karena jika diberikan donasi beeupa uang, justru tidak bermanfaat sebab tempat membeli bahan pangan di sana sudah tidak ada,” pungkasnya.

(Alya Safira)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *