Masyarakat Kecam Pembakaran Bendera Rasul

Viralnya video yang berisi anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang membakar bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid pada perayaan Hari Santri Nasional, Senin (22/10) kemarin di Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut tersebut membuat geger masyarakat dan menuai berbagai reaksi.

Dilansir dari Tribunnews.com, menanggapi hal tersebut, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil sangat menyayangkan pembakaran bendera yang mengandung kalimat tauhid tersebut. “Mungkin tidak dimaksudkan kepada kalimat tauhidnya, tetapi dimaksudkan untuk membakar simbol organisasi yang sudah dilarang pemerintah. Namun, tindakan tersebut sudah pasti memberikan multi-tafsir. Lain kali serahkan saja kepada aparat keamanan,” ucap Ridwan. Dirinya pun menyarankan jika memang tidak suka terhadap sesuatu, maka belajarlah untuk menyampaikan pesan dengan adab dan cara yang baik. “Bangsa kita harus naik kelas menjadi bangsa yang lebih mulia dan lebih berada serta keberadaan kita dilihat dari cara kita menyampaikan pesan dan menyelesaikan perbedaan,” tambahnya. Ridwan menyarankan agar yang bersangkutan segera meminta maaf.

Dilansir dalam detik.com, selain Ridwan kamil, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat (Jabar), Rachmat Syafei mengimbau agar masyarakat tidak mudah terprovokasi dan mempercayakan kepada polisi terkait penyusutan kasus tersebut. “Oleh karena itu, kita menahan diri, bagaimana menunggu proses hukum secara profesional yang akan dilaksanakan oleh Kapolda. Kami intinya, berterima kasih kepada Polda yang secara profesional menangani kasus ini dan kita semua imbau jangan terprovokasi sehingga melebar yang tidak perlu,” ucapnya.

Salah satu anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Syahid, Ika Kurnia Sari mengatakan apa yang mereka lakukan itu tidak ada manfaatnya karena menimbulkan banyak kerugian, kerusakan serta kemarahan umat Islam. “Tidak sepatutnya mereka membakar bendera tersebut walaupun mereka menganggap bendera tersebut merupakan bendera dari organisasi yang dianggap radikal di Indonesia, karena pada dasarnya bendera itu sudah ada sejak zaman Rasulullah yaitu bendera tauhid di mana kalimat tauhid itu kalimat sakral,” paparnya. Ia melanjutkan, kalaupun kontra terhadap organisasi radikal itu, tidak harus sampai membakar bendera tersebut yang mana sudah jelas ada kalimat tauhidnya. “Lebih baik membakar bendera zionis atau para yahudi karena sudah pasti melanggar agama,” geramnya.

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom), jurusan Jurnalistik, Yogi Permana mengatakan bahwa tindakan tersebut sangat tidak terpuji dan tidak etis. “Bendera dengan tulisan seperti itu seharusnya dijaga dengan baik bukan malah dibakar seenaknya, di mana di dalamnya ada tulisan syahadat,” tuturnya. Yogi berharap, agar perilaku seperti itu tidak diulangi lagi dan pelaku segera bertaubat dan segera diproses secara hukum.

(Syahbaniyah Widyanitamy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *