Gejala dan Cara mengatasi Depresi

Dalam video yang akhir-akhir ini sedang populer di media social, seorang artis Instagram, Karin Novilda atau yang kerap dikenal dengan Awkarin menyebut bahwa dirinya pernah mengalami depresi karena berbagai masalah di usia mudanya. Namun, tak banyak orang yang mengenali perbedaan stress dengan depresi.
Dilansir dari Detikhealth.com, dokter jiwa dari Klinik Psikosomatik dari Omni Hospital Alam Sutera, Tangerang Selatan, dr. Andri mengatakan bahwa stress dan depresi adalah dua hal yang berbeda. Stress adalah rasa tertekan biasa sedangkan depresi adalah gangguan jiwa dengan sekumpulan gejala, ada tiga gejala utama yang menandakan depresi, yaitu suasana hati yang sedih, putus asa dan kehilangan minat melakukan sesuatu. “Bukan hanya sedih, tetapi juga hilang harapan, putus asa, ada gangguan tidur kemudian gangguan makan dan gejala-gejala ini bertahan selama minimal dua minggu, jika kurang dari dua minggu bukan dianggap depresi,” jelasnya. Ia melanjutkan, apabila gejala-gejala tersebut bisa hilang hanya dalam hitungan hari, tandanya bukan suatu masalah besar. Namun, jika gejalanya bertahan hingga dua minggu, sebaiknya segera melakukan pemeriksaan pada psikiater.
Menurut dr. Andri, orang-orang yang depresi sehingga ingin melakukan bunuh diri tidak menginginkan kematian, hanya saja mereka bermaksud mengurangi rasa sakit yang mereka rasakan, seperti sakit hati, sakit pikiran, dan sakit-sakit lainnya. “Orang-orang yang ingin bunuh diri tidak memiliki cara lain untuk mengurangi rasa sakitnya, ditambah beberapa orang di sekitarnya tidak memahami apa yang sedang ia rasakan,” ujarnya. Ini artinya, orang yang depresi terhadap sesuatu hal, perlu didengarkan dan dibantu.
Mahasiswa Fakultas Psikologi semester tiga, Tiara Ami Andani menuturkan, hal-hal dasar yang bisa dilakukan untuk para penderita depresi yang memiliki keinginan untuk bunuh diri di antaranya, mendorong diri untuk mencari bantuan, seperti berbicara dengan teman, keluarga, atau orang-orang profesional (psikolog atau psikiater). “Hindari terlalu banyak waku sendirian, bertemulah dengan orang, perbanyak interaksi positif yang dapat membantu mengurangi beban pikiran,” tuturnya. Ia menambahkan, seperti melakukan aktivitas olahraga seperti, yoga, meditasi ataupun kegiatan seni yang sesuai dengan diri sendiri supaya bisa mengekspresikan emosi. “Keberadaan orang-orang terdekat akan memberikan dampak positif, karena korban depresi akan merasa diperhatikan dan disemangati agar mampu melewati masa-masa kritis,” tandasnya.
(Galuh Alisha Yasmine)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *