Silat Tapak Suci UIN Jakarta Peroleh Dua Perunggu dalam Pomprov DKI Jakarta 2018

Menunjukkan eksistensi dalam lingkungan universitas tidak selalu harua dilakukan dengan berprestasi di bidang akademis. Banyak cara yang dapat dilakukan mahasiswa untuk membanggakan nama individu maupun  universitas. Seperti yang dibuktikan oleh mahasiswa UIN Jakarta, yang berdiri di bawah naungan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Federasi Olahraga Mahasiswa (Forsa), cabang olah raga pencak silat yang berhasil memperoleh dua medali perunggu dalam kejuaraan Pekan Olahraga Mahasiswa Provinsi (POMPROV) DKI Jakarta yang diadakan dua tahun sekali ini. Pada Selasa-Rabu (23-24/10) di GOR Otista Jakarta Timur. Tim Pencak Silat UIN Jakarta membawa 12 orang untuk bertanding melawan pesilat dari berbagai universitas yang berada di Jakarta.

Ketua tim Pencak Silat UIN Jakarta, Alifa Asmaul Fauzi mengatakan, dalam mempersiapkan diri sampai hari pelaksanaan, tidak ada sedikitpun bantuan dari pihak universitas. Alifa dapat mengerti kenapa tidak ada bantuan dari pihak kampus. “Karena pihak kampus hanya membantu jika memang perhelatan tersebut tingkat nasional,” ujarnya. Alifa merasa bersyukur terkait hasil yang diraih oleh atlet dari UIN Jakarta, walaupun harus menelan kekalahan di semifinal, tetapi dua atlet UIN Jakarta berhasil mempersembahkan dua medali perunggu, yang diraih oleh Bella Gestiliana dalam kelas A puteri dan Muhammad Agil dalam kelas B putera.

Alifa melanjutkan, terkait persiapan yang dilakukan hanya dalam waktu singkat, karena kegiatan ini di luar agenda prioritas dari Pencak Silat UIN Jakarta. “Persiapan yang kami lakukan hanya seminggu sebelum pelaksanaan, kita mulai berlatih dengan intens,” ujarnya. Dalam waktu dekat, tim Pencak Silat UIN Jakarta akan berangkat ke Tegal untuk sebuah pertandingan silat tingkat nasional, sebelum nantinya akan melaksanakan Perhelatan olahraga UIN se-Indonesia. “Untuk menggodok atlet agar dalam kondisi siap bertanding, diperlukannya sarana dan prasaran dari pihak kampus untuk menunjang pelatihan yang diberikan. Jadi saya berharap pihak universitas dapat membantu atlet-atlet berkenaan dengan hal tersebut,” pungkasnya.

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), jurusan Ekonomi Pembangunan, Mohammed Zamorano Pratama menuturkan, dirinya merasa bangga dengan apa yang telah diraih oleh mahasiswa UIN Jakarta, terlebih lagi kejuaraan ini tingkat DKI Jakarta. Mahasiswa yang telah juga sudah menggeluti dunia pencak silat sejak Sekolah Menengah Atas (SMA) ini, membagikan pengalaman tentang sulitnya melakukan persiapan sebelum menuju hari pelaksanaan. “Pertama, atlet silat harus memiliki disiplin tinggi dam kerja keras. Setelah itu atlet harus menghafal gerakan dan dapat mengeluarkan gerakan tersebut pada saat pertandingan dimulai,” ujarnya. Ia melanjutkan, yang terakhir, kesulitan yang dialami atlet silat ialah permasalahan cedera, terlebih silat merupakan olahraga kontak fisik. Pengalaman yang dirasakan Rano ialah, disaat latihan tulang kaki Rano bergeser, yang membuatnya harus menepi dalam perhelatan silat untuk beberapa saat. Ia berharap agar persilatan di UIN Jakarta dapat bersatu, karena masih sangat terlihat ketidak-kompakan dari beberapa perguruan silat yang berada di UIN Jakarta. “Seharusnya jika ingin membawa nama UIN Jakarta, mahasiswa harus bersatu dan mengesampingkan bendera dari masing-masing perguruan silat yang berada di UIN Jakarta. Jadi mahasiswa yang minoritas seperti saya yang memiliki perguruan yang berbeda tetap bisa berlatih bersama pesilat lainnya,” tutup Rano.

(Muhamad Fajan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *