Hari Stroke Sedunia: Kenali Gejala Stroke, Selamatkan Diri dan Keluarga.

Setiap tahunnya, 29 Oktober diperingati sebagai ‘Hari Stroke Sedunia’. Peringatan hari ini digagas oleh World Stroke Organization (WSO) yang bertujuan untuk mengingatkan masyarakat di dunia bahwa stroke dapat dicegah dan stroke dapat diobati. Stroke adalah gejala-gejala defisit fungsi saraf yang diakibatkan oleh penyakit pembuluh darah otak. Gangguan fungsi syaraf pada stroke disebabkan oleh gangguan peredaran darah otan non traumatik. Data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) tahun 2015 menyatakan bahwa stroke menghabiskan biaya pelayanan kesehatan sebesar Rp. 1,15 triliun dan meningkat menjadi Rp. 1, 27 triliun pada tahun 2016. Dalam kurun waktu 1 tahun peningkatan pembiayaan bisa mencapai 10,4 persen untuk stroke.

Dilansir dari detikhealth.com, Staf Medis Fungsional (SMF) Saraf Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta Rizaldy Pinzon menjelaskan, Stroke disebabkan oleh akumulasi faktor risiko stroke. Faktor risiko stroke ada yang tidak dapat diubah dan ada yang dapat diubah. Faktor yang tidak dapat diubah di antaranya, usia, jenis kelamin, ras, riwayat keluarga, dan riwayat stroke sebelumnya. “Laki-laki lebih mudah terkena stroke dibanding perempuan, usia tua lebih mudah pula terkena stroke dibanding usia muda, ras kulit bewarna lebih muda terkena stroke dibanding ras kulit putih, seseorang dengan riwayat keluarga stroke memiliki risiko yang lebih tinggi pula untuk terkena stroke. Berbagai faktor ini adalah faktor resiko yang tidak dapat diubah,” jelas Rizaldy.

Rizaldy melanjutkan, faktor risiko stroke ada pula yang dapat diubah, yang utama adalah hipertensi, berbagai penelitian memperlihatkan bahwa 60 hingga 70 persen pasien stroke menderita hipertensi pada saat masuk rumah sakit. Masalah umum dijumpai adalah ketidaktahuan dan ketidakpedulian sebagian besar masyarakat tentang hipertensi. “Hipertensi tidak memberikan gejala spesifik. Seorang penderita hipertensi akan datang berobat akibat komplikasi yang ditimbulkan oleh hipertensi. Hal inilah yang menyebabkan hipertensi sering disebut sebagai the silent killer alias pembunuh secara diam-diam. Ketika disadari komplikasi hipertensi sudah sedemikian parahnya. Misalnya penyakit jantung, stroke dan gagal ginjal,” jelas Rizaldy.

Mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK), semester tiga, Yusron Tamsyi menuturkan, pencegahan stroke diawali dengan mengenali faktor risiko stroke pada diri masing-masing. Ajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang stroke kepada diri sendiri, jika tidak tahu maka tingkat kepedulian terhadap diri sendiri masih sangat rendah.  “Kenalilah faktor stroke yang dapat dikendalikan pada diri sendiri, kerabat, atau keluarga dan pada masyarakat,” tutur Yusron. Langkah berikutnya adalah mengendalikan faktor risiko stroke tersebut. Kendalikan tekanan darah yang tinggi dengan membatasi asupan garam, menghindari stress, mengonsumsi banyak buah dan sayur, berhenti merokok, dan rutin melakukan olah raga. “Saya berharap dengan diperingatinya Hari Stroke Sedunia ini masyarakat bisa lebih peduli lagi dengan tubuhnya, mencari tahu hal-hal yang tidak diketahui seputar dunia kesehatan yang dekat dengan lingkungannya seperti stroke ini, supaya bisa lebih aware lagi kepada tubuhnya, tubuh orang tuanya, dan tubuh keluarganya,” harap Yusron.

(Galuh Alisha)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *