Hari Sumpah Pemuda Ke-90 Tahun, Mahasiswa Beri Harapan Bagi Generasi Muda Indonesia

Kemarin, 28 Oktober 2018 merupakan peringatan Sumpah Pemuda yang ke 90 tahun. Hari Sumpah Pemuda ini terbentuk pada saat kongres pemuda kedua yang diselenggarakan pada 27-28 Oktober 1928 di Batavia (DKI Jakarta). Hasil dari keputusan kongres pada saat itu yaitu pemuda Indonesia mengaku dan menjunjung tinggi tanah, bangsa dan bahasa Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia. Lalu, di era millenial ini, bagaimana sebenarnya pemuda Indonesia dalam memaknai Sumpah Pemuda?

Duta Damai Banten, Rohmatul Hikmah mengatakan, sebagai duta damai, ia memaknai Hari Sumpah Pemuda ini dengan selalu menanamkan semangat nasionalisme dalam diri di segala hal, karena seperti yang diketahui betapa pentingnya peran pemuda dalam kehidupan. Selain itu, ia memaknai hari bersejarah ini dengan memiliki kesadaran terhadap urgensi pemuda bagi bangsa dan negara. “Hal yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan berbagai kerja produktif untuk pengembangan diri sendiri, sehingga lahirlah pemuda Indonesia yang tangguh, berkarakter, serta mempunyai karya sebagai bagian dari wujud kecintaan kepada Indonesia,” ucapnya. Rohmatul mengungkapkan, bahwa ia melihat peran pemuda sekarang ini khususnya dalam bidang perdamaian mengalami kerentanan. Dalam proses perdamaian potensi dan kapasitas yang dimiliki oleh kaum muda yang tentunya tidak dapat dilepaskan dari kelemahan pemuda itu sendiri. “Kerentanan ini sering kali menyebabkan penyimpangan sehingga terjadi kekerasan sosial di dunia nyata maupun maya. Perilaku tersebut tidak  ditangani dengan baik sehingga dapat menghancurkan kondisi damai yang masih rapuh,” ujarnya. “Sebagai pemuda harus mampu menjadi pembaca cerdas dan kritis dalam menyikapi setiap isu permasalahan di Indonesia. Bukan hanya diam atau membungkam tapi memilih berkontribusi dengan aksi yang solutif. Kontribusi bisa di mulai dari diri sendiri atau bergabung dengan komunitas yang positif,” paparnya ketika ditanya cara untuk membuat pemuda sekarang lebih peka terhadap perdamaian. Rohmatul berharap, di Hari Sumpah Pemuda ini, semoga pemuda dapat menjadi tonggak perubahan bangsa untuk masa depan dan memiliki visi dalam menjalani kehidupannya serta bisa menjadikan momen catatan juang ini sebagai pelopor pembangkit diri agar terus berjuang dalam memperjuangkan perdamain baik di dunia nyata atau dunia maya.

Salah satu mahasiswa berprestasi UIN Jakarta, Multazam Ahmad mengatakan bahwa ada tiga makna yang ingin ia sampaikan di Hari Sumpah Pemuda ini, yaitu memberikan penekanan untuk mengahargai perjuangan Indonesia, ikut serta dalam menjaga keutuhan bangsa ini, mempunyai semangat untuk berjuang demi memajukan dan mewujudkan cita-cita negara serta memberikan makna untuk mencintai Indonesia dengan segenap hati. Multazam juga mengungkapkan bahwa ia melihat peran pemuda dalam kehidupan bangsa sekarang ini masih kurang. “Kita terlalu disibukkan dengan kehidupan pribadi terkhusus di dunia pendidikan masih banyak di antara kita yang melihat bahwa kesuksesan seorang pemuda itu hanya dilihat ketika dapat lulus tepat waktu dengan nilai yang bagus lalu mendapat pekerjaan yang layak tanpa memikirkan, bahwa peran pemuda sebenarnya adalah sebagai agent of control social di mana sebagai pengampu harapan masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, Multazam juga mengatakan, sebagai pemuda dan mahasiswa kita harus berperan dalam menyukseskan setiap program-program pemerintah. “Kita harus optimis dengan generasi muda hari ini walaupun tantangan pemuda di depan juga ada yaitu the golden era 2045 di mana angka produktif lebih tinggi dari nonproduktif yang menjadi tanggung jawab kita sebagi generasi muda,” tuturnya. Multazam memaparkan, peningkatan semangat pemuda Indonesia bisa dibagi dalam forum diskusi media sosial yang dapat dipakai sebagai alat mempengaruhi dalam rangka memajukan peradaban bangsa. Di momentum Sumpah Pemuda ini, Multazam berpesan bahwa hari ini tidak sementara bermimpi, melainkan proses membangun mimpi. “Indonesia golden era 2045 adalah milik kita bersama dan mari membangunnya sekarang juga karena pemuda pantang mengatakan bahwa masih ada hari esok,” tutupnya.

(Syahbaniyah Widyanitamy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *