Maknai Hari Sumpah Pemuda Dengan Unik, Warga di Yogyakarta Jadikan Ikrar Sebagai Mahar

Memperingati Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober, tak sedikit kejadian yang selalu dikaitkan dengan peristiwa ini. Salah satunya pernikahan Sophi Arifudin, warga Rejowinangun, Kota Gede, Kota Yogyakarta dengan  Suyani , warga Jatipurno, Wonogiri, Jawa Tengah, pada Jumat (26/10). Bertempat di Hall B Jogja Expo Center (JEC), Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Pasangan ini menikah dengan mahar seperangkat alat shalat dan ikrar sumpah pemuda. Mereka mengenakan pakaian adat Bali Agung, dan duduk di atas mesin pembuat keramik yang bisa berputar.

Dilansir dari Kompas.com, upacara pernikahan unik itu digagas oleh Forum Ta’aruf Indonesia (Fortais). “Maharnya seperangkat alat shalat dan ikrar sumpah pemuda yang diucapkan mempelai pria. Tujuannya untuk menyebarkan virus nasionalisme dan menanamkan semangat Sumpah Pemuda dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Ryan Budi Nuryanto yang merupakan ketua Fortais. Dia mengatakan, pengantin duduk di atas alat pembuat keramik memiliki makna tersendiri. Gerakan putar yang berpusat itu merupakan simbol harapan agar pasangan pengantin ini memusatkan diri pada perilaku bermasyarakat dan berkeutuhan. “Diharapkan keduanya saat memulai hidup baru terus berputar bersama baik dalam suka mapun duka,” ujarnya. Ryan mengaku acara pernikahan unik digelar karena hingga saat ini masih banyak warga yang belum bisa menikah karena terkendala keuangan. Sementara itu, Arifudin mengaku bersyukur bisa melangsung pernikahan. Dia mengaku mendapatkan istri saat ada program “Golek Garwo” yang digelar oleh Fortais. “Semoga kami jadi keluarga yang sakinah, mawahdah dan rahmah,” tutup Arifudin.

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom), jurusan Jurnalistik semester tiga, Marinah mengungkapkan, kejadian yang terjadi di Yogyakarta itu sangat unik. Dirinya baru pertama kali mendengar mahar pernikahan dengan ikrar Sumpah Pemuda. “Dengan menjadikan ikrar sumpah pemuda sebagai mahar dalam pernikahan, saya berharap kedua mempelai menjadi warga Indonesia yang baik,” ungkapnya. Marinah menutup dengan mengatakan, menanggapi setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam memperingati Sumpah Pemuda, yang terpenting adalah jangan melakukan suatu hal yang menimbulkan kerugian bagi diri sendiri maupun masyarakat sekitar.

(Shifa Ubaisilfa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *