UKM KMPLHK Ranita Ajak Pemuda Bicara Bencana Lewat Seminar “SEBENTAR”

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kelompok Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup dan Kemanusian (KMPLHK) Kembara Insani Ibnu Batuttah (Ranita) telah mengadakan Seminar Bencana dan Talkshow Relawan (SEBENTAR) dengan tema, “Pemuda Bicara Bencana”, yang diadakan pada Jumat (26/10) di Aula Madya lantai satu. Acara ini diadakan dalam rangka memperingati Bulan Pengurangan Risiko Bencana. Tak hanya itu, SEBENTAR ini juga muncul karena di tahun 2018 ini, banyak terjadi gempa bumi, ditambah adanya desas-desus tentang Megathrus yang berpotensi melanda Jakarta.

Staff Tsunami Early Warning System-Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) wilayah III Ciputat, Agung Sabtaji menjelaskan Indonesia adalah daerah yang rawan akan bencana gempa bumi. “Hanya ada beberapa tempat tertentu yang relatif aman seperti Pulau Kalimantan dan Pulau Papua bagian selatan,” paparnya. Agung melanjutkan gempa bumi sampai saat ini tidak bisa diprediksi. “Jangan percaya, membuat atau menyebarkan informasi hoax tentang gempa bumi,” ungkapnya. Agung menambahkan, gempa bumi memang tidak bisa dicegah, namun akibat kerusakannya dapat diperkecil. Selanjutnya, Agung menjelaskan apa itu megathrust, khususnya megathrust selat sunda yang menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini  . Thrut’ merujuk pada salah satu mekanisme gerak lempeng yang menimbulkan gempa dan memicu tsunami, yaitu gerak sesar naik. Dengan demikian, megathrust bisa diartikan gerak sesar naik yang besar,” paparnya. Agung mengatakan, agar masyarakat tidak panik dalam menghadapi bencana seperti gempa bumi, tsunami atau megathrust selat sunda yang diisukan. “Gempa bumi, tsunami dan megathrust selat sunda perlu diwaspadai, namun jangan berlebihan,” jelasnya.

Ketua pelaksana, Alifiah Nurul Zakia menjelaskan, sebagai organisasi yang bergerak di bidang kebencanaan, merasa terpanggil melakukan acara seperti ini yang berisikan tentang penanggulan bencana, baik sebelum, saat dan sudah terjadinya bencana. “Entah kebetulan atau tidak, saat kami sedang merumuskan acara ini, terjadi bencana alam seperti di Lombok dan di Sulawesi Tengah. Ditambah antusias yang mendaftar di luar ekspektasi kami, mungkin acara kami memang pas dengan banyak bencana alam yan terjadi di Indonesia,” ungkapnya. Mahasiswa yang akrab disapa Cendai ini menambahkan, dalam acara ini diajarkan pengurangan risiko bencana yang disampaikan oleh perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Melissa Aprilia. Menurut Cendai, pengetahuan tanggap darurat bencana civitas akademika UIN Jakarta masih kurang, karena banyak yang menyepelekan ditambah daerah di UIN Jakarta jarang terjadi bencana. “Padahal bencana seperti kebakaran pernah terjadi di Fakultas Ushuludin (FU) dan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH),” kata Cendai. Untuk fasilitas evakuasi di UIN Jakarta, Cendai merasa masih sangat minim. Padahal jika terjadi bencana, jalur evakuasi adalah jalan yang aman untuk keluar dari Gedung . “UIN Jakarta juga tidak memiliki lapangan luas atau ruang terbuka guna titik kumpul. Hal kecil seperti tanda dilarang merokok pun harus menjadi perhatian. Karena semua ini akan sangat penting bagi nyawa kita saat terjadinya bencana,” paparnya. Kegiatan selanjutnya, Cendai mengatakan Ranita akan mengadakan simulasi bencana, yang sebelumnya hanya ada di internal Ranita. Hal-hal seperti ini juga dilalukan oleh beberapa jurusan seperti Kesejahteraan Sosial dan Kesehatan Masyarakat yan memiliki mata kuliah Manajemen Bencana. “Mudah-mudahan kegiatan ini mendapat dukungan dari pihak kampus,” tutupnya.

(Alya Safira)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *