Menilik Kondisi Melek Literasi di Indonesia, Jauh Dari Angka Aman?

Buku adalah jendela dunia. jika ingin mencari tahu tentang dunia maka bacalah buku. Begitulah sepenggal  kalimat yang sering diucapkaan oleh pengajar kepada yang diajar, baik itu tingkat sekolah maupun universitas. Hal ini menunjukkan, betapa pentingnya membaca buku di kalangan masyarakat, khususnya mahasiswa, untuk dapat memperluas wawasan tentang ilmu pengetahuan. Ironisnya, menurut data The World’s Most Literate Study pada 2016, menempatkan tingkat literasi di Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara, hanya berada satu peringkat di atas Botswana yang merupakan negara di Afrika Selatan.

Dalam sebuah video yang dipublikasikan oleh Narasi Channel dengan judul “Buka Data: Kenapa Orang Indonesia Jarang Baca?” menjelaskan bahwa, menurut Chairil Abdini yang merupakan Dosen Universitas Indonesia, setidaknya terdapat empat faktor yang menyebabkan literasi di Indonesia rendah. Faktor yang pertama ialah gizi buruk. Dalam hal ini dibuktikan pada 2013, tingkat gizi buruk di Indonesia mencapai 17,8%. Faktor kedua yaitu kualitas pendidikan. Dapat dilihat dari kualitas guru di Indonesia yang masih jauh dari kata memadai, terbukti dari hasil uji kompetensi guru pada 2015 yang menyentuh angka rata-rata 53.02%. Faktor ketiga ialah infrastruktur pendidikan, Indonesia masih berada jauh di bawah negara-negara seperti Thailand, Singapura, dan Vietnam. “Infrastruktur di sini dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu listrik dan laboratorium komputer, akses terhadap internet, dan teknologi komunikasi informasi,” ujar Chairil. Faktor yang terakhir adalah rendahnya minat baca.

Sebelum kemerdekaan Indonesia, siswa AMS (SMA untuk pribumi) diwajibkan membaca 25 judul buku. Chairil berpendapat, setelah kemerdekaan kewajiban membaca buku sudah tidak ada. “Jelas, hal ini berpengaruh terhadap rendahnya minat baca di Indonesi,” tuturnya. Melihat masalah-masalah yang terjadi mengenai literasi di Indonesia, Chairil memiliki solusi untuk meningkatkan literasi. Pertama yaitu mengatasi masalah gizi buruk sedini mungkin. Kedua merekrut dan meningkatkan kualitas guru. Ketiga, membangun dan meningkatkan infrastruktur pendidikan. “Maka, yang terakhir, memasukkan kembali buku bacaan wajib ke dalam kurikulum untuk meningkatkan minat baca,” terangnya. Di sisi lain, Lukman Solihin yang merupakan peneliti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menuturkan, terdapat dua hal yang menunjukkan akses terhadap buku sulit di Indonesia. “Pertama ialah jumlah perpustakaan sekolah yang baru memenuhi sekitar 61,45% dari total sekolah di Indonesia. Kedua yaitu jumlah perpustakaan di desa yang baru mencakup 30% dari desa atau kelurahan yang ada di Indonesia,” paparnya.

Mahasiswa UIN Jakarta, Nuzulia Nur Rahma menuturkan, faktor yang mempengaruhi literasi di Indonesia masih rendah ialah, karena pola pikir masyarakat yang menganggap membaca dan menulis merupakan sebuah hobi. Tetapi menurut Lia, seharusnya masyarakat berpikir membaca dan menulis sebagai sebuah kewajiban. Lia mengaku miris dengan kondisi literasi Indonesia saat ini, karena menurutnya telah terjadi pergeseran pengertian membaca dan menulis. “Membaca yang biasanya diartikan untuk membaca buku, dan menulis yang diartikan tangan dan pulpen yang menulis di atas kertas, kini sudah berganti menjadi membaca segala informasi dari gawai, dan menulis melalui ketikan di telepon ataupun computer,” jelasnya.

Lia menggambarkan situasi saat ini dengan memberikan contoh, jika ditanyakan kepada 10 orang secara acak, mungkin hanya ada satu yang menjawab sedang membaca buku dan memahami buku itu secara terperinci. “Tak sedikit dari masyarakat yang masih bertumpu terhadap media sosial untuk mencari informasi, padahal beberapa informasi yang berada di media sosial sulit untuk dibuktikan kebenarannya,” ungkapnya. Mengenai langkah yang dapat pemerintah tempuh untuk menaikan tingkat literasi di Indonesia, Lia mengkritisi tentang jumlah perpustakaan di Indonesia yang masih jauh dari kata memadai. Kedua ialah tentang jumlah produksi buku yang masih sangat sedikit, sehingga penyebaran buku tidak menyeluruh, “Pemerintah harus membangun perpustakaan-perpustakaan di daerah yang belum terjamah, dengan banyak variasi buku bacaan di dalamnya. Lalu, pemerintah harus menerbitkan buku lebih banyak lagi dari yang sudah ada, agar buku bacaan yang bervariasi untuk masyarakat dapat menyebar dengan merata,” tandasnya.

(Muhamad Fajan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *