Memaknai Haji, Jihad atau Pencitraan? – RDK FM UIN JAKARTA

Memaknai Haji, Jihad atau Pencitraan?

Tidak terasa sudah memasuki bulan Dzuhijah, atau sering pula disebut sebagai bulan haji. Haji adalah suatu ibadah wajib dikerjakan minimal sekali seumur hidup bagi yang mampu. Momentum ibadah haji merupakan ajang jihad fii sabilillah, namun terkadang sebagian orang memaknainya hanya sebagai bentuk pencitraan diri.

Staf Administrasi dan Keuangan Perseroan Terbatas (PT) Babul Umrah Mandiri Wisata, Acep Sabiq Abdul Aziz mengatakan, Jamaah haji reguler yang tercatat di Departemen Agama (Depag), kurang lebih sekitar 170 ribu orang yang sudah tiba di Saudi. Mungkin masih ada penambahan keberangkatan lagi untuk yang haji plus, baik dari Depag maupun jalur undangan kerajaan.

“Setiap tahunnya memang jamaah haji di Indonesia meningkat dari sebelumnya, karena Indonesia punya hubungan baik dengan kerajaan Saudi,” ujarnya.

Ia menambahkan,  Maka Indonesia diberikan kuota tambahan untuk jamaah haji sekitar 10 ribu orang pertahun. Biasanya di Indonesia, orang yang menunaikan haji mendapatkan sebutan haji pada namanya, ternyata tidak hanya di Indonesia ada juga negara lain yang memakai sebutan pada namanya.

“Bedanya, jika di negara lain yang pakai sebutan haji itu biasanya orang besar atau pemuka agama,” ungkapnya.

Alasan yang lebih mendasar di Indonesia diberi sebutan haji pada bagian depan namanya, karena haji itu bukan perkara yang mudah.

 “Dulu, orang yang berangkat haji itu bukan orang sembarangan, bahkan orang yang berangkat haji itu biasanya kalangan orang alim,” ungkapnya.

Menurutnya,  resikonya adalah jamaah yang berangkat sampai Makkah belum tentu bisa kembali lagi ke Indonesia. Maka, ada penghargaan khusus bagi mereka yang pernah berangkat haji dan kembali ke tanah air dengan selamat, yaitu dengan memberikan julukan haji sebelum namanya.

Anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Syahid, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM),  Rais Maslimudin Jamil mengatakan, haji adalah salah satu rukun dalam Islam, dimana sebagai rukun penyempurna dari empat rukun lainnya.

“Hakikat ibadah haji adalah pengorbanan dalam ketaatan, karena dalam haji seseorang berkorban jiwa, raga bahkan Harta untuk melaksanakannya,” ujarnya.

Haji itu bisa disamakan atau lebih tepatnya salah satu bentuk jihad, karena bila melihat dari asal makna jihad itu sendiri adalah kesungguhan. Maka, tidak salah bila haji dikatakan jihad, bahkan dalam menjalankan ibadah lainnya harus dengan jihad atau kesungguhan.

“Tapi bila kita yang meminta dipanggil haji selepas pergi haji itu kurang etis saya rasa,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, ibarat meminta pengakuan ke orang lain kalau seseorang itu telah haji. Segala bentuk Ibadah hanya dipersembahkan kepada Allah Ta’ala. Tidaklah bermakna ibadah seseorang  bila hanya untuk mencari pujian atau perhatian orang lain.

(Shidqi Fikri Zaidan)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

enterslots kdslots777 vegasgg autospin88 jempol88 playbet88 luxury333 fit188 bigdewa megahoki88 warung168 gas138 nusa365 gebyar123 kencana88 max77 garuda999 koinvegas mantul138 autowin88 emas168 pusatwin ajaib88 monsterbola bonus138 kencana88 koko138 bet88 dragon77 dunia777 bigdewa jakartacash 7winbet emas138