Peringati Sumpah Pemuda, Milenial Harus Mengembangkan Keahlian di Era Revolusi 4.0

Sumpah Pemuda jatuh pada 28 Oktober, yang mana merupakan tonggak kesadaran untuk menjunjung tinggi persatuan tanah air, bangsa, dan bahasa Indonesia. Sumpah Pemuda sebagai bukti nyata bahwa Indonesia bisa diraih atas perjuangan rakyat Indonesia melawan kolonialisme yang terus menerus menindas rakyat dengan cara yang tak pantas.

Di era 4.0 ini, pemuda milenial dituntut untuk bisa menguasai teknologi yang akan terus menghadirkan banyak perubahan yang tak dapat dibendung. Pemuda Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton dalam persaingan global, terutama di bidang ekonomi dan teknologi.

Sekuat mungkin milenial harus mampu menopang tantangan revolusi 4.0 karena apabila tidak diberikan perhatian yang lebih, maka bonus demografi tidak akan ada artinya.

Dilansir dari Liputan 6.com, Dosen Psikologi Universitas Airlangga Surabaya (Unair), Margaretha P.G menuturkan, pemuda Indonesia harus gigih, gesit dan mengambil peran dalam kehidupan berbangsa. Margareth menambahkan, ada sejumlah peran yang harus dilakukan oleh milenal, yakni merawat keberagaman , mengembangkan keahlian sesuai dengan revolusi teknologi dan mempelajari bahasa-bahasa revolusi industri 4.0.

“Tentu ketiga peran tersebut harus dilakukan dengan merawat kemanusiaan dengan cara berpikir kritis sehingga perlu banyak membaca dan berdiskusi sesama,” tuturnya.

Margareth menambahkan, pemuda Indonesia dapat mengolah rasa dan karsa agar menjadi manusia yang berkontribusi di dalam masyarakat secara humanis, kreatif hingga spiritual.

Wakil Sekretaris Jendral Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas (Dema-U), Qoriyana Nuselvi Prihatini menuturkan, pentingnya milenial sebagai penerus bangsa mengembangkan keahlian di revolusi 4.0 karena dengan adanya perkembangan zaman, pemuda Indonesia dituntut untuk selalu peka terhadap segala permasalahan yang sedang dihadapi negara, juga agar tidak kalah saing dengan Sumber Daya Manusia (SDM) asing.

Qoriyana menambahan, pemuda yang mengerti dan mengikuti perkembangan zaman revolusi 4.0 biasanya berpikir lebih terbuka dan tidak mudah menghakimi sesuatu, karena cenderung menelaah dari dua sisi permasalahan.

“Jadilah pemuda pemudi yang bijak dalam menangani suatu permasalahan. Karena tumbuhnya bangsa kita, berawal dari pemuda yang berkualitas,” pesannya.

(Halimatusya’diyyah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *