Libatkan Mahasiswa dalam Diskusi Modern, FDIKOM Gelar International Lecture

Dalam upaya memberikan kesempatan bagi mahasiswa terlibat dalam diskusi modern, maka Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) UIN Jakarta mengadakan acara International Lecture dengan tema “Islam Today : a Book Discussion with Terence Ward”, bertempat di Teater Aqib Suminto lantai dua FDIKOM pada Rabu (30/10).

Acara tersebut dihadiri oleh narasumber yaitu Terence Ward, lalu Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yaitu Din Syamsuddin, dan Dekan FDIKOM yaitu Suparto, M. Ed, Ph.D. serta jajaran dan mahasiswa lainnya.

Narasumber acara, Terence Ward menuturkan, Ia menulis buku “The Wahabi Code” untuk orang kulit putih di Amerika yang menganggap bahwa masalah dunia terkait radikalisme, terorisme itu ada pada orang Islam. Padahal, orang Islam tak bersalah atas segala hal yang terjadi di dunia.

“Buku ini untuk memperlihatkan pada orang Barat bahwa bukan orang Islam yang menjadi penyebab suatu permasalahan. Namun, hal tersebut adalah disebabkan hanya dari satu sekte kecil di dalam Islam yang menghalalkan kekerasan,” jelasnya.

Peneliti dan penulis tersebut menambahkan, buku tersebut adalah bukan buku akademis tetapi, buku yang lahir dari pengalaman dan keresahannya terkait Islam yang mengalami stigma buruk di orang Barat. Di buku nya tersebut Ia menjelaskan tentang aliran Wahabi yaitu sekte baru dalam Islam yang hadir 200 tahun lalu di Saudi Arabia.

“Bagi saya untuk generasi muda yang terpenting adalah kita bangga kepada Islam yang kita praktikkan, Islam yang kita yakini, Islam yang kita miliki yang berakar pada budaya damai kita. Maka, jangan izinkan siapa pun untuk merusakkan kebanggaan dan kecintaan kita pada Tuhan dan Islam,” tutupnya.

Dekan FDIKOM, Suparto, M. Ed, Ph.D. menuturkan, Terence Ward telah lama tinggal di Timur Tengah dan berkebangsaan Iran. Terence ingin memberikan suatu gambaran lain terkait ekstremisme yang sesungguhnya tidak diajarkan oleh Islam.

“Islam adalah sebagai agama damai yang tentu tidak pernah mengajarkan kekerasan, namun hal tersebut berasal dari satu sekte kecil yaitu Wahabi yang menghancurkan artefak budaya di Barat lalu mengklaim bahwa diri mereka yang paling benar,” jelasnya.

Ia menambahkan, saat ini Islam di Indonesia menjadi Islam percontohan di dunia. Hal tersebut karena pada awalnya Islam masuk ke Indonesia melalui pendekatan budaya , melalui sufistik, dan tidak terjadi peperangan serta saling menghormati antar budaya.

“Selalu berusaha untuk berpacu dengan perkembangan ilmu dan pengetahuan informasi serta menjelaskan ke banyak orang bahwa agama Islam mengajarkan kedamaian bukan kekerasan,” tutupnya.

(Chintia Desy Utami)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *