Peristiwa Sejarah Dibalik 1 Maret

Hari Serangan Umum satu Maret. Sumber foto: tribunnews.com/tribun-kaltim


Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 tidak serta-merta merdeka sepenuhnya lantaran masih dianggap tidak sah oleh beberapa negara sekutu. Hal tersebut membuat Indonesia harus berjuang mempertahankan kemerdekaannya. Setelah empat tahun Indonesia merdeka yaitu 1949, Ibu Kota Indonesia yang pada saat itu Yogyakarta ingin dikuasai kembali oleh Belanda, sehingga hari tersebut dikenang oleh masyarakat Yogyakarta sebagai Hari Serangan Umum yang jatuh pada setiap satu maret.

Diperoleh dari Kompas.com, serangan umum secara besar-besaran oleh tentara militer Belanda di Yogyakarta membuat tentara Indonesia mengusung strategi untuk mengusir Belanda dengan pasukan yang dipimpin oleh Letkol Soeharto sebagai Komandan Brigade 10 ke Sektor Barat hingga batas Malioboro.

“Wilayah kota dipimpin oleh Letnan Amir Murtono dan Letnan Masduki. Pertempuran tersebut berlangsung selama enam jam hingga pukul 12 siang dan Belanda baru mengatakan mundur dalam pertempuran,” jelasnya.

Dirinya menambahkan, akibat keadaan yang mendesak dan kondisi darurat tersebut menyebabkan ibu kota Indonesia menjadi di Jakarta yang dirasa aman dalam membangun pemerintahan.

Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan dan Sosial, Ilma Shafa Ghaida menuturkan, setelah Indonesia berganti ibu kota maka pemerintahan lebih menguatkan sayapnya untuk menjaga kesatuan Indonesia.

“Serangan umum satu maret tersebut menjadi pembelajaran bagi masyarakat agar banyak bersyukur karena kita lahir dan hidup di negara yang kuat, serta memiliki leluhur berjiwa baja,” ungkapnya.

Dirinya berpesan, sebagai mahasiswa yang merupakan insan milenial harus lebih sadar dalam meneruskan perjuangan para pahlawan dengan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

(Rizka Amelia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *