Keabsahan Supersemar Masih Dipertanyakan

Penyerahan surat perintah dari Soekarno kepada Soeharto. Sumber foto: picbear.org


Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) merupakan surat perintah yang ditanda tangani oleh presiden RI pertama Ir. Soekarno pada 11 Maret 1966, yang berisi pemberian wewenang kepada Letnan Jenderal Soeharto selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib). Hal tersebut bertujuan untuk memulihkan keamanan dan ketertiban setelah kejadian Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S PKI) sehingga diperingati pada setiap 11 Maret.

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), semester dua, Pahlevi Agung menuturkan, Supersemar yang dikeluarkan oleh Soekarno kepada Soeharto yaitu mengenai tindakan yang perlu dilakukan demi keamanan nasional yang pada saat itu sedang tidak baik.

“Peristiwa Supersemar terdapat banyak versi sehingga menjadi misteri mengenai keabsahannya. Namun, dari pelajaran sejarah Indonesia Supersemar berasal dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD),” jelasnya.

Dirinya menambahkan, sejarah merupakan acuan bagi bangsa dan negara serta masyarakat untuk menindak lanjuti langkah yang harus diperbaiki. Namun, saat ini masyarakat memang masih banyak yang belum mengetahui sejarah tersebut.

“Sejarah harus dijadikan pelajaran agar tidak kembali terjadi di masa depan. Menghargai Supersemar dapat dengan menggelar kajian yang membahas ulang, kemudian bertukar pikiran seperti diskusi,” pungkasnya.

Mahasiswa Adab dan Humaniora (FAH), jurusan Sejarah Peradaban Islam (SPI), semester dua, Irvan Fatchurrohman menuturkan, sejarah merupakan hal penting karena jika tidak terdapat sejarah maka tidak akan terdapat kehidupan.

“Pelajaran dari peristiwa Supersemar yaitu berupa kode etik dan semoga mahasiswa dapat peduli kepadanya,” jelasnya.

(Sitta Sakinatu)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *