Sejarah dan Penyebab Penyajian Rujak yang Berbeda

Rujak kuliner khas Indonesia. Sumber foto: Endeus.TV


Balamuda, siapa sih yang nggak tahu dengan makanan yang terdiri dari buah potongan kemudian disajikan dengan saus cocolan gula merah. Nah benar, rujak memang kerap kali kita dengar namanya. Makanan yang biasanya dijadikan kudapan atau pencuci mulut tersebut memiliki cita rasa segar, manis, masam, dan pedas secara bersamaan.

Rujak yang biasa kita kenal terdiri dari buah seperti bangkoang, nanas, kedongdong, jambu, manga muda, pepaya muda, dan labu muda yang telah dipotong, lalu disajikan bersama saus yang disebut bumbu rujak dari gula merah yang sudah diuleg bersama cabai, kacang tanah, dan petis. Namun, ternyata rujak memiliki sejarah tersendiri lho.

Balamuda tahu gak sih asal mula nama “Rujak” dan bagaimana sih penyajian di setiap daerah?

Dilansir dari CNN Indonesia, Sejarawan Universitas Padjajaran (UNPAD) Bandung, Fadly Rahman mengatakan, secara etimologi kata Rujak turunan dari kata Rurujak yang ditemukan di dalam naskah teks Prasasti Jawa Kuno di masa abad ke 10. Pada saat itu, Rujak dianggap sebagai makanan para bangsawan, karena komposisinya menyerupai salad orang Eropa. Pada tahun 2018, Kedutaan Besar Republik Indonesia di China menyajikan Rujak kepada para tamu resepsi diplomatik, salah satunya Wakil Menteri Luar Negeri China Kong Xuanyou, saat mengadakan acara peringatan Hari Kemerdekaan RI di Beijing.

Lalu, mengapa penyajian Rujak bisa berbeda ya Balamuda di setiap daerah?

Hal tersebut yaitu lantaran komposisinya disesuaikan dengan kondisi pangan di setiap daerah orang yang mengolah Rujak. Seperti di daerah Jawa Timur, terkenal dengan Rujak Cingurnya, yaitu irisan moncong sapi yang sudah dibersihkan dan direbus, lalu dicampur dengan sayur, buah, tempe goreng, dan tahu goreng yang sudah dipotong dadu. Kemudian, di Bali populer dengan Rujak Bulung, yaitu rumput laut yang sudah direbus, lalu dicampur dengan campuran bumbu khasnya dan disiram dengan kuah pindang. Sedangkan di Aceh, ada Rujak u groeh yang ciri khasnya menggunakan potongan batok kelapa yang masih rapuh sebagai bahan utamanya, lalu disiram dengan bumbu lezat campuran dari gula merah, cabai, tepung roti, dan perasan jeruk nipis.

Nah itu dia Balamuda. Ternyata, perbedaan penyajian Rujak di setiap daerah yaitu sebagai ikon kuliner dari kota tersebut, serta menjadi daya tarik wisatawan untuk mencoba perbedaan dan kelezatan dari tiap Rujak di berbagai daerah. Perbedaan dalam penyajian Rujak pun sebagai salah satu bukti, bahwa Indonesia kaya akan cita rasa kuliner khas di setiap daerah. Jadi, Balamuda sudah pernah mencoba yang mana, nih?

(Rizka Amelia)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *