Problematik Pengurangan UKT di PTKIN – RDK FM UIN JAKARTA

Problematik Pengurangan UKT di PTKIN

Penguarangan UKT dirasa kurang efektif bagi mahasiswa. Source: Jaya Penulis


Kementerian Agama telah memberikan program bantuan berupa keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa Perguruan Tinggi Islam Negri (PTKIN). Bantuan tersebut telah diterima oleh 58 PTKIN, meliputi 17 Universitas Islam Negeri (UIN), 36 Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan 5 Sekolah Tinggi Keagamaan Islam Negeri (STAIN). Sebelumnya, Kemenag menerbitkan  Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 515 Tahun 2020 tentang pengurangan UKT bagi yang terdampak Covid-19. Sekitar 160 ribu mahasiswa turut mendaftar program bantuan tersebut.

Direktorat Jendral (Dirjen) Kemenag, Muhammad Ali Ramdhan mengatakan, sebanyak 15.153 mahasiswa telah menerima bantuan berupa penurunan UKT satu tingkat. Kemudian, 108.890 mahasiswa mendapat keringanan UKT. Selain itu, sebanyak 30.235 turut menerima keringanan dalam bentuk penundaan masa pembayaran  selama dua hingga empat bulan. Terhitung mulai dari Agustus sampai November 2020. Bentuk keringanan lainnya, yakni berupa pembayaran secara berangsur yang diterima oleh 6.285 mahasiswa.

“Total penerima keringanan UKT PTKIN ini mencapai 160.563 mahasiswa. Besarannya variatif tergantung kampusnya. Ada yang mendapat keringanan sebesar 10 persen, 15 persen, 20 persen, 25 persen, 30 persen, 50 persen, bahkan hingga 100 persen,” katanya.

Program tersebut memiliki 4 skema keringanan UKT yang diatur dalam peraturan, yakni: penurunan, pengurangan, perpanjangan masa pembayaran, dan  angsuran. Implementasinya diserahkan pada kebijakan masing-masing PTKIN dan disesuaikan dengan pilihan yang diajukan mahasiswa. Tak hanya keringanan UKT, banyak PTKIN yang memberikan bantuan lain kepada mahasiswa yang terdampak Covid-19.

“Bantuan lainnya yang diberikan berupa kuota internet, bantuan Kuliah Kerja Nyata (KKN), atau bantuan sosial lain,” ujarnya.

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), Jurusan Jurnalistik, semester tiga, Syafitri Ramanda mengatakan, walaupun mendapat bantuan penurunan UKT satu tingkat, baginya masih terlalu mahal. Dengan begitu pengurangan tersebut tidak berpengaruh.

“Menurut saya, ada beberapa alasan yang membuat bantuan ini kurang efektif. Pertama, persyaratan yang terlalu rumit. Padahal semua mahasiswa pasti mengalami dampak Covid-19. Kedua, penurunan satu tingkat bagi saya tetap saja terbilang mahal. Bukannya tidak bersyukur mendapat bantuan, namun kondisi ekonomi saya juga keluarga tidak memadai,” jelasnya.

Tindak lanjut yang dilakukan olehnya, seperti melapor kepada kepala prodi, belum juga mendapat jawaban yang pasti. Pasca pengaduan pada Kaprodi, dirinya mendapatkan informasi Senat Mahasiswa (Sema) membuka bantuan bagi mahasiswa yang terdampak. Namun, informasi tersebut belum ada kejelasan.

“Saya akhirnya mengambil jalan terakhir, yakni cuti untuk satu semester ini. Walaupun orang tua sempat merasa kecewa, namun mengingat biaya pengurangan masih terlalu tinggi, mau tidak mau ini adalah jalan terakhir,” tuturnya.

(Milla Rosa)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

enterslots kdslots777 vegasgg autospin88 jempol88 playbet88 luxury333 fit188 bigdewa megahoki88 warung168 gas138 nusa365 gebyar123 kencana88 max77 garuda999 koinvegas mantul138 autowin88 emas168 pusatwin ajaib88 monsterbola bonus138 kencana88 koko138 bet88 dragon77 dunia777 bigdewa jakartacash 7winbet emas138