Bangun Generasi Milenial Jadi Bermoral

Indonesia pada 2020 hingga di masa yang akan datang banyak ditentukan oleh generasi muda. Dewasa ini, permasalahan moral menjadi sorotan masyarakat Indonesia, khususnya di tengah pandemi yang belum berakhir, yang tidak hanya menghadapi krisis ekonomi, hukum, dan politik, namun juga moral pada kalangan remaja. Pasalnya, potret kekerasan, pembunuhan, dan perilaku menyimpang kini mengarah ke dalam seks bebas. Menyikapi berbagai potret buram perilaku menyimpang tersebut, bagaimana strategi yang harus dilakukan untuk membangun generasi bermoral?

Dosen Fakultas Psikologi (FPsi), Bidang Ilmu Psikologi, Ikhwan Lutfi, M.Psi., mengatakan, generasi muda kini lebih banyak yang bermasalah dalam etika seperti sopan santun, gaya kerja, pandangan atau semangat, idealisme dan hal itu menjadi fenomena global. Faktor utama penyebab penyimpangan moral generasi muda yaitu faktor eksternal, seperti media sosial dan tekanan sosial.

“Selain itu, faktor internal terdapat pada instan value yakni segala sesuatu yang hadir secara instan dan cepat, sehingga apapun harus diraih secara instan ini menjadi masalah, karena berdampak pada pengabdian nilai moral,” ungkapnya.

Ia menyampaikan, moral individu adalah gambaran nilai kelompok yang akan menjadi gambaran nilai sebuah generasi. Generasi moral yang baik akan melahirkan bangsa dan negara yang baik pula. Maka, generasi sebelumnya bertanggung jawab terhadap hal tersebut dengan duduk bersama pada semua pihak dan generasi untuk berdiskusi tentang moral.

Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Siti Restu Rahayu mengungkapkan, jika seseorang mengalami krisis moral maka tindakan yang harus dilakukan dengan pendekatan individu. Kita harus mengetahui latar belakang individu melakukan hal tersebut.

“Kasus perilaku penyimpangan yang ada di Indonesia dapat dijadikan ukuran krisis moral. Hal tersebut dapat dilihat sejak Januari 2020, banyak bentuk kekerasan, pemerkosaan, bunuh diri dan hal lainnya yang terjadi. Maka, aspek keluarga, pendidikan dan lingkungan masyarakat sangat memengaruhi moral dan perilaku seseorang,” jelasnya.

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), jurusan Sosiologi, semester sembilan, Eggy Anugrah menjelaskan, keluarga yang tidak harmonis, kurangnya afeksi dari orang tua dan lingkungan pertemanan cenderung menyimpang, dapat menjadi faktor penyebab krisis moral. Maka, keluarga mempunyai peran penting untuk membentuk kepribadian anak. Selain itu, anak harus lebih selektif dalam memilih lingkungan sosial dimana ia ditempatkan.

“Tantangannya yaitu pada adaptasi budaya global. Maka, langkah konkrit dalam membangun moral generasi muda dengan membedakan yang dipelajari dan ditinggalkan. Selain itu, semua pihak berperan untuk menanamkan nilai dasar,” jelasnya.

(Sani Mulyaningsih)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *