Hari Demokrasi Internasional: Tingkatkan Daya Nalar Demokrasi Masyarakat

Berdasarkan Keputusan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) sejak 1988, menetapkan 15 September sebagai Hari Demokrasi Internasional. Hal tersebut bertujuan meninjau keadaan demokrasi di dunia dan penting untuk seluruh komponen dari berbagai negara termasuk Indonesia. Generasi muda perlu memperdalam pemahaman mengenai prinsip demokrasi di tengah tatanan dunia yang bergerak pesat karena, demokrasi dapat memberikan peluang lebih besar bagi terwujudnya berbagai ekspresi hak dasar manusia, terutama dalam aspirasi politik.

Ketua Dewan Mahasiswa (DEMA) UIN Jakarta 2019, Sultan Rivandi mengungkapkan, momentum Hari Demokrasi Internasional patut kita rayakan sebagai pengingat bagi demokrasi di Indonesia. Jika ditinjau praktik proseduralnya, demokrasi di Indonesia cukup menunjukkan keberhasilannya. Namun, jika ditinjau substantif kita masih melihat kecacatan dari aspek partisipasi publik, transparansi ataupun keterbukaan informasi sepanjang hari demokrasi dilakukan.

“Ada beberapa negara yang bertransisi ke sistem demokrasi, namun memiliki konflik sosiologis dan horizontal yang begitu kacau. Namun, Indonesia cukup berhasil menjalankan demokrasi itu meskipun masih terdapat kecacatan,” ungkapnya.

Dirinya menambahkan, dalam konteks pendidikan demokrasi kita harus membedakan antara politik dan disiplin ilmu politik. Pasalnya, masyarakat diguyur dengan informasi politik yang dipenuhi dengan politik sensasional, sehingga membuat stigma masyarakat bahwa politik itu kotor.

“Segala tanggung jawab atas keberhasilan demokrasi terdapat pada setiap orang di dalam partisipasi politik, yang tidak hanya dibatasi pada ruang kotak suara saja.  Namun, harus ada perbaikan dari pemangku kebijakan publik dalam mendengarkan aspirasi rakyat secara serius dan kompeherensif. Oleh karena itu, kita harus meningkatkan daya  nalar di dalam demokrasi kearah rational choice politic,” jelasnya.

Ketua Himpunan Mahasisawa Program Studi (HMPS) Ilmu Hukum, Ahmad Farhan Hadad menuturkan, makna Hari Demokrasi Internasional kita harus lebih menegakkkan demokrasi secara baik terutama dalam membangun negara. Kekokohan demokrasi Indonesia masih memprihatinkan, seperti pada Undang-Undang (UU) Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang pasalnya tidak terlalu detail dan terkesan membatasi kebebasan berpendapat.

Ia melanjutkan, peran pemuda dan akademisi adalah suatu hal yang penting dalam praktik demokrasi namun, peran para orang tua dan sesepuh juga merupakan indikator terpenting dalam menjaga marwah pemuda untuk berpendapat dan mengikuti konstitusi dalam menanggapi suatu permasalahan peraturan atau hukum jika ada hal yang janggal dalam pelaksanaannya.

“Mari mencintai dalam hal membaca buku, aturan-aturan, berita atau issue sebagai bekal bangsa dalam memajukan berbagai sektor, terutama, dalam hal diplomasi karena kepahaman kita tidak dapat hanya dari mendengarkan orang saja namun,kita juga harus menggali sendiri setiap informasi yang ada” pesannya.

(Sani Mulyaningsih)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *