Hapus Sistem Perbudakan dan Eksploitasi Manusia

Berdasarkan data Perserikatan Bngsa-Bangsa (PBB) setiap harinya masih terdapat perempuan dan anak di seluruh dunia menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking) dan perbudakan. Hal tersebut mendorong Majelis Umum PBB mencetuskan Hari Penghapusan Perbudakan Internasional pada 1986. Oleh karena itu, setiap tahunnya pada (02/12) diperingati sebagai aksi nyata dan menekankan arti pemberantasan perdagangan, serta ekploitasi manusia.

Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), jurusan Sejarah Peradaban Islam (SPI), semester lima, Muhammad Iqbal Akmaludin menjelaskan, Islam hadir pada abad ke-7 untuk menghapuskan perbudakan secara bertahap atau evolusi. Pada hakikatnya Islam tidak mengajarkan perbudakan, yang merujuk pada surah al-Hujurat ayat 13, yakni di sisi Allah tidak mengenal majikan atau budak, namun yang membedakan itu ketakwaan.

“Dalam Islam sendiri penghapusan perbudakan ada secara hukum tepatnya saat kepemimpinan Raja Faisal dari Arab Saudi pada 1967, membebaskan para budak dari majikannya. Jadi, sebelum ada penghapusan perbudakan oleh PBB, Islam telah melakukan 19 tahun sebelumnya. Hal ini membuktikan, Islam berperan dalam penghapusan perbudakan,” tegasnya.

Anggota Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) SPI, Divisi Keislaman tersebut menuturkan, Islam melarang sistem perbudakan dan eksploitasi manusia, karena bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM), dan Islam mengajarkan pentingnya menjaga harga diri antar manusia. Kita harus berusaha mencegah perbudakan dengan memberi upah, waktu istirahat, melaporkan ke pihak berwajib, sosialisasi dengan media sosial, dan tidak memandang pembantu lebih rendah derajatnya.

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), jurusan Kesejahteraan Sosial (Kessos), semester tiga, Ahmad Ghetich Rangkassiwi menilai, peringatan tersebut menafsirkan banyak manusia dan masyarakat Internasional sudah sadar dan sepakat, kegiatan perbudakan termasuk hal buruk dan dihapuskan. Sedangkan, nilai kebersamaan juga kemanusiaan, jadi poin dalam peringatan tersebut.

“Untuk kasus di Indonesia masih ada isu-isu perdagangan anak dan manusia, juga eksploitasi anak dan tenaga kerja. Faktor utamanya, yaitu sifat serakah dan sombong manusia yang menganggap dirinya lebih berkuasa dari manusia lainnya,” kata Ghetich.

Menurutnya, semua bentuk eksploitasi terhadap manusia itu perbudakan, seperti ketika seseorang berkerja namun tidak mendapatkan upah yang sesuai, waktu kerja yang tidak manusiawi, serta tidak diberikan hak.

“Semoga peringatan ini membuat manusia semakin sadar untuk meninggalkan bentuk perbudakan sekecil apapun itu, dengan disuarakannya peringatan ini saya berharap kasus dan isu perbudakan yang masih ada segera diusut dan diakhiri selamanya,” pungkasnya.

(Falah Aliya)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *