Hari Disabilitas Internasional: Ciptakan Dunia yang Lebih Baik bagi Disabilitas

Ketua Umum Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), Gufroni Sakaril saat menyampaikan sambutan.


Hari Disabilitas Internasional (HDI) jatuh pada (03/12) merupakan peringatan yang diresmikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 1992, sebagai bukti apresiasi dunia terhadap kaum disabilitas. Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI) memperingati HDI 2020 melalui webinar nasional, dengan misi membangun kehidupan yang lebih inklusif, aksesibel dan berkelanjutan pasca pandemi Corona Virus Desease 2019 (Covid-19), bagi penyandang disabilitas.

Ketua Umum Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), Gufroni Sakaril mengatakan, memperingati HDI dalam suasana pandemi Covid-19, tidak mengurangi makna dari hari yang bersejarah tersebut. HDI merupakan momentum bagi masyarakat internasional serta Indonesia, dalam memerhatikan hingga menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh penyandang disabilitas.

“Harus diakui, sampai hari ini masih ada stigma negatif dan diskriminasi kepada penyandang disabilitas, yang menjadi tanggung jawab kita semua, dan tidak hanya oleh para pegiat disabilitas. Stigma negatif dapat diselesaikan manakala kita semua bersinergi, dan bergandeng tangan menyelesaikan permasalahan secara bersama-sama, yaitu dengan menciptakan dunia yang lebih baik bagi penyandang disabilitas,” ujarnya.

Dirinya menambahkan, penyandang disabilitas memiliki hak setara dengan yang non disabilitas. Mereka ingin semua akses dibuka seluas-luasnya, seperti akses pendidikan, pekerjaan, social, politik dan lainnya.

“Kami tidak ingin menjadi benalu di dalam keluarga, kami tidak ingin menjadi benalu juga di dalam masyarakat, kami juga tidak ingin menjadi beban negara. Kami ingin menjadi aset bagi keluarga dan masyarakat. Kata kuncinya adalah beri kesempatan yang sama kepada penyandang disabilitas untuk melihat dunia,” tutupnya.

Alumni Fakultas Psikologi (FPsi) 2007 UIN Jakarta, Siti Aisyah, S.Psi., mengatakan, penyandang disabilitas dapat dibagi dalam beberapa kategori, di antaranya adalah mampu didik dan latih. Mampu didik yaitu penyandang disabilitas mampu menggunakan kognitifnya dalam menyerap pelajaran, sedangkan mampu latih yaitu mereka yang memiliki keterbatasan kognitif, sehingga mampu dilatih setidaknya untuk menjaga dirinya sendiri.

“Pemerintah sudah cukup baik dalam mengapresiasi para penyandang disabilitas. Asian Para Games adalah salah satu bentuk contoh menyamaratakan mereka dengan kita yang normal. Sudah banyak lapangan pekerjaan yang dibuka khusus memperkerjakan disabilitas, seperti restoran di Bali yang memperkerjakan tuna rungu,” sebutnya.

Dirinya menambahkan, disabilitas memang sebuah keterbatasan diri, baik mental, fisik, sensorik, emosional, dan kognitif, yang dialami sebagian manusia. Namun, pada nyatanya hal tersebut tidak dapat dikatakan sebuah keterbatasan. Allah memberi anugerah kepada hambanya semenjak ia dilahirkan, maka keterbatasan penyandang disabilitas adalah anugerah, yang perlu disyukuri dan dapat diasah sehingga menjadi sebuah kelebihan.

(Rizka Amelia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *