Peran Mahasiswa dalam Pilkada Serentak 9 Desember

Berdasarkan berbagai pro dan kontra terkait diselenggarakannya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di tengah pandemi, pemerintah akhirnya memutuskan untuk tetap melaksanakan Pilkada pada 9 Desember mendatang, dengan tetap memerhatikan protokol kesehatan yang ada. Mahasiswa dalam hal ini memiliki andil penting khususnya sebagai pemilih guna berjalannya Pilkada dengan maksimal.

Dilansir dari Sindonews.com, Direktur Jendral Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Prof. Widodo Muktiyo mengungkapkan, mahasiswa sebagai agent of change memiliki peranan penting dalam kehidupan bernegara, yaitu untuk mengajak masyarakat ‘melek’ politik guna maksimalisasi penyelenggaraan Pilkada.

“Dalam Pilkada mahasiswa menjadi mata dan telinga masyarakat. Mahasiswa dan media kampus berperan sebagai referensi masyarakat, agar tidak salah dalam mengonsumsi informasi. Hal tersebut selaras dengan salah satu cara untuk menyukseskan pesta demokrasi Pemilihan 2020,” ungkap Widodo.

Widodo juga berharap, mahasiswa dapat dengan gigih menjauhkan dirinya dari money politics ataupun black campaign lainnya.

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), Jurusan Manajemen Dakwah (MD) semester lima, Albi Aliyuddin menyampaikan, terdapat dua hal yang bisa dilakukan mahasiswa. Pertama, jika mahasiswa sebagai pemilih maka pastikan menggunakan hak pilihnya dengan baik dan menjaga nilai demokrasi yang ada.

“Kemudian, kedua, ketika mahasiswa tergabung sebagai relawan bagian dari penyelenggaraan KPU, maka mahasiswa haruslah memastikan masyarakat sekitarnya juga turut menjalankan asas-asas demokrasi,” sebut Albi pada Rabu (02/12).

Mahasiswa FDIKOM, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) semester tiga, Luthfi Husen menyampaikan, mahasiswa memiliki peran aktif untuk menciptakan Pilkada yang damai dan memiliki tenggang rasa.

“Menurut saya,  mahasiswa sebagai pemilih haruslah menyalurkan suaranya sebagai salah satu bentuk apresiasi demokrasi. Mahasiswa juga harus menciptakan Pilkada yang damai dan tenggang rasa. Jika dirasa perlu menyampaikan kritik, maka sampaikanlah kritik tersebut dengan cara yang baik dan di waktu yang baik sehingga tidak menimbulkan provokasi,” tutur Husen (02/12).

(Kiki Farika G)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *