Rapid Test Antigen Jadi Syarat Jelang Libur Nataru

Libur nataru 2021 diwajibkan Rapid Test Antigen. Sumber foto: suara.com


Pemerintah memberikan aturan baru berupa persyaratan wajib melakukan Rapid Test Antigen (RTA) bagi orang yang keluar masuk wilayah DKI Jakarta dan Bali. Peraturan tersebut bertujuan untuk mengantisipasi penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) menjelang libur natal dan tahun baru (nataru), yang mulai berlaku pada Jumat (18/12). Lantas, apa yang membedakan Rapid Test Antigen dengan tes lainnya?

Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK), semester tujuh, Alfy Fatchur Rizky menjelaskan, Rapid Test Antigen merupakan tes cepat yang berfungsi untuk mendeteksi antigen atau protein virus yang terdapat pada tubuh penderita. Cara tes tersebut dengan mengambil sampel lendir atau jaringan yang ada pada hidung pasien.

“RTA itu berbeda dengan Swab PCR (SP). Perbedaanya ada pada objek yang diteliti, kecepatan dan akurasinya. Cara kerja antigen yaitu mengambil sampel lendir dari hidung dan mulut untuk mendeteksi adanya antigen. Berbeda dengan Swab PCR yang mencari unsur genetika atau materi genetik langsung dari Covid-19,” jelasnya.

Dirinya menyampaikan, RTA meneliti antigen yaitu protein virus dengan kecepatan hasilnya hanya membutuhkan waktu 15-30 menit. Sensitivitasnya dapat diurutkan dari yang terlemah ke tertinggi yaitu, mulai dari Rapid Test Antibodi, Rapid Test Antigen, Swab PCR. Menurutnya, kebijakan rapid antigen ini cukup baik karena dalam segi sensitivitas dan keterjangkauannya berada di tengah Rapid Test Antibodi dan PCR.

Mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK), Jurusan Kedokteran, semester lima, Syifa Silvia mengatakan, terdapat tiga macam tes Covid-19, yaitu di antaranya Rapid Test Antibodi, Rapid Test Antigen, dan Swab Polymerase Chain Reaction (PCR). Rapid test adalah salah satu pengecekan secara serologi melalui antibodi yaitu Immunoglobulin M (IgM) dan Immunoglobulin G (IgG). Sedangkan, PCR yaitu pemeriksaan secara molekuler melalui DNA dan RNA pasien.

“Rapid test itu ada dua, yaitu antibodi dan antigen. Perbedaannya yaitu pengambilan pada spesimennya. Untuk antibodi menggunakan darah, sedangkan antigen sama dengan PCR yaitu mengambil sampel lendir hidung atau bisa dibilang serum dengan cara di swab,” jelas Syifa.

Dirinya menambahkan, pengambilan sampel lendir pada antigen dan PCR sama-sama di swab, namun pada antigen hanya menunggu 15-30 menit untuk proses mengetahui hasilnya dan akan terlihat pada alat rapid test tersebut. Sedangkan, pada PCR membutuhkan beberapa hari untuk diproses dan menggunakan alat khusus serta hasilnya berbentuk paper.

“Prosesnya jelas lebih cepat yang rapid test daripada swab PCR. Untuk biayanya, pada rapid test antibodi cukup murah sekitar 100 ribu rupiah, lalu yang rapid antigen sekitar 300 ribu, dan untuk PCR hampir satu juta,” tutupnya.

(Sitta Sakinatu Yassaroh)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *