Kenali Parosmia, Gangguan Penciuman Penyintas Covid-19

Parosmia sebagai gangguan penciuman yang dialami penyintas Covid-19.


Bicara tentang Corona Virus Desease 2019 (Covid-19), memang tidak akan ada habisnya nih, Balamuda. Selalu saja ada temuan baru dari para ilmuan, mulai dari gejala sebelum terpapar virus, hingga setelah sembuh dari masa kritis. Jika Balamuda masih ingat, terdapat gejala yaitu tidak dapat mencium bau, yang dirasakan oleh pasien positif Covid-19, dan ini terjadi hingga masa pemulihan atau saat seseorang sudah dinyatakan sembuh (penyintas Covid-19).

Gejala tersebut dinamakan parosmia. Sebelum penyintas Covid-19 mengalami parosmia, mereka sudah terlebih dahulu mengalami gejala anosmia, yaitu gangguan penciuman oleh pasien positif Covid-19. Anosmia ini dapat berubah menjadi parosmia saat masa pemulihan. Beberapa gejala adalah seseorang kehilangan intensitas penciuman, dan kesulitan mendeteksi aromanya.

Namun, apakah gejala parosmia itu bahaya atau tidak ya, Balamuda?

Dilansir dari CNNIndonesia.com, Direktur medis Vanderblit University Medical Center’s Smell and Taste, Justin Turner mengatakan, gejala parosmia bagi para penyintas Covid-19 bukanlah sesuatu yang membahayakan. Justru ini menunjukan bahwa indera penciuman sedang dalam tahap regenerasi untuk kembali normal, karena sebelumnya penyintas Covid-19 mengalami anosmia yang merupakan gejala bawaan dari terinfeksi Covid-19.

Lalu, sebenarnya parosmia itu seperti apa sih?

Nah Balamuda, sebenarnya ada gelaja lain seperti phantosmia, yang mirip dengan gejala parosmia. Jika dibedakan, phantosmia adalah halusinasi penciuman. Seseorang akan mencium sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Sedangkan, parosmia yaitu seseorang masih dapat mendeteksi bau dan aroma, tetapi baunya salah. Seperti saat ada yang memasak mie goreng yang seharusnya beraroma gurih dan lezat, pengidap parosmia akan mencium aroma yang menyengat bahkan beraroma busuk.

Pengidap parosmia akan mencium bau yang busuk secara terus menerus, terutama saat dihadapkan oleh makanan. Mereka juga sulit mengenali beberapa bau dan aroma yang ada di sekitarnya. Hal tersebut terjadi akibat rusaknya neuron penciuman (pendeteksi aroma). Neuron ini melapisi hidung dan memberi informasi kimiawi kepada otak, sehingga terdeteksilah sebuah bau. Saat terkena parosmia, maka informasi kimiawi bau berubah saat mencapai ke otak.

Nah Balamuda, itu dia informasi tentang parosmia dan gejala-gejalanya. Ingat ya, tetap harus menjalani protokol kesehatan dan menerapkan 3M yaitu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. Stay safe and healthy, Balamuda!

(Rizka Amelia)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *